Jumat, 18 Desember 2015
Maafkan aku Ibu, tidak ada sesuatu yang spesial ataupun berbentuk barang yang bisa aku berikan untuk Ibu. Aku hanya punya kasih sayang ini Ibu dan itu sangat tulus dari hatiku. Jasamu tidak penah tergantikan oleh apapun. Sampai kapan pun aku akan selalu mencintai dan menyayangimu Ibu.
Kamis, 17 Desember 2015
Merindukan Tanah Kelahiran
Siti Asyari
Desember 17, 2015
Fiksi dan Non Fiksi, Kata Hati, Non Fiksi
No comments
Tidak sedikit kerabatKu menanyakan kapan aku pulang. Ingin sekali aku berjumpa denganmu, ucapnya. Bahkan, adapun kerabat dekatKu setelah lulus SMK sampai saat ini belum pernah bersua. Tak bisa digambarkan rasa rindu itu, diibaratkan seperti darah yang telah mengalir disekujur tubuh dalam diri seseorang. Semoga Allah mengizinkan dan memberi waktu untuk kita berjumpa kembali dan menceritakan masa-masa kenangan disaat dulu kita masih bersama..
Selasa, 20 Oktober 2015
NgeCamp di Bukit Tranggulasih
Jalan-jalan adalah hobiku. Kalau sudah
terdengar ajakan untuk menjelajah ataupun mencicipi lokasi wisata, jawaban
tegasku menyambut dengan lembut, kapan? Di mana? Dan dengan siapa? Dan tidak
mungkin aku menolaknya. Tepat pada tanggal 13 oktober 2015, tim eksplore kami mengusulkan ke lokasi
wisata bukit Tranggulasih yang terletak di kecamatan Baturraden. Sepakat sepuluh
orang bisa berangkat di hari itu dan usulanku pun diterima untuk camping, awalnya sih teman-teman ingin
berangkat pagi sekitar jam 03.00, tapi saya tidak yakin, pasti semua orang akan
terlelap nyenyak dalam mimpi indahnya. Akhirnya saya mengusulkan, alangkah
baiknya kita camping saja, bisa jadi
kita tidak akan telat melihat sunrise-nya.
Impian bagi para wisata yang berkunjung ke bukit Tranggulasih adalah dapat
melihat sunrise dan pemandangan indah
yang dilihat dari atas bukit. Perlengkapan yang dibutuhkan mulai aku menyewanya
seperti dua tenda yang berkapasitas 4-5 orang dan kompor gas portable serta nestingnya. Makanan dan
yang lainnya, termasuk tanggungan pribadi masing-masing.
Pukul 00.00 perjalanan dimulai. Hawa
dingin mulai meresap secara lambat menusuk bagian jaket. Perjalanan memakan
tiga puluh menit ke atas Bukit Tranggulasih, tetapi karena kami memilih jalur
yang salah, waktu termakan begitu pesat. Berkilo-kilometer jauhnya kami salah
arah. Mendaki dan menurun membuat motor kami mengeluarkan wangian khasnya. Dan kami
harus kembali di pertigaan awal jalan, setelah kami bertanya dengan seseorang
yang sedang sibuk mengurusi aksi jurit malam mahasiswa pencinta alam. Sekitar satu
jam lebih akhirnya kami sampai di Bukit Tranggulasih Baturraden. Menitipkan motor
dan mulai kami bersama-sama mendaki sekitar 200 meter ke tempat tujuan. Sesampai
di atas Bukit, kami mencari tanah yang datar untuk mendirikan tenda. Seselai jam
setengah 03.00 pagi, setelah bercakap-cakap sebentar di tenda sambil menikmati
pemandangan cahaya dari atas Bukit dan canda tawa, akhirnya kami semua
memutuskan untuk tidur sejenak. Dan mengingatkan teman-teman agar bisa
membangunkan satu sama lain di pagi hari untuk melihat sunrise. Inilah pengalaman yang bermakna dan menyenangkan dengan
teman-teman kelasku di hari libur. Tidak akan pernah dilupakan momen terbaik
ini. Menikmati sunrise walaupun
sedikit tertutupi oleh awan mendung yang tdak bersahabat, tapi tidaklah apa,
pemandangan indahnya tetap saja tidak pudar. Inilah perjalanan ekowisataku,
mana ceritamu?
"Foto Narsis deh"
"Foto bareng setelah melihat sunrise"
Senin, 19 Oktober 2015
Penjelajah Gunung Prau 2565MDPL
“Foto narsis sebelum berangkat”
Perjalan telah dimulai, melaju
dengan kecepatan normal dari kota kecil kami ke kota tujuan. Selama dua jam
lebih kami sampai di kabupaten wonosobo. Senang tak tertahankan, sudah dekat
tujuan kami. Tapi selama perjalanan sempat kami juga untuk melepaskan letih
sesaat di bakul Salak pondo di Banjarnegara. Setelah itu melanjutkan kembali
perjalanan. Perut mulai tidak bersahabat, perang rasa lapar terjadi ketika kami
sampai di kota Wonosobo jam 21.15. Nasi goreng, menu spesial kami malam itu.
Serempak kami memilih saat melihat buku menu yang diberikan oleh penjual. Kita
sadar dompet tipis kami tidak dapat memilih menu nasi goreng seafood, tekor kita. Dengan serempaknya
kami memilih menu nasi goreng telur, yang paling murah harganya di daftar menu
dan teh hangat pelengkap makan malam kami.
“Foto dinner bareng.”
Jarak dari kota wonosobo ke dieng
tidaklah jauh, bisa ditempuh sekitar dua puluh menit, tapi karena jalannya
mendaki dan menanjak motor yang kami lajukan sampai tidak sanggup. Akhinya
memakan waktu hampir satu jam. Tiba di Dieng sekitar jam 22.00, setelah
menitipkan motor dan mengurus administrasi lainnya di basecamp pendakian. Mulai
kami mendaki, gelap gulita malam yang menemani kami. Senter tangan dan headlamp selalu setia menerangi. Jalan
penuh debu dan batuan besar yang menanti di depan dan setiap rute pendakian. Duka senang kami
rasakan, mulai dari mendaki hingga sampai di camp sunrise, itulah tujuan kami. Dua jam hingg kami sampai di
puncak, mendirikan tenda di sela-sela dinginnya malam yang tidak bisa ku tahan.
Walaupun dengan baju yang berlapis dua dan memakai jaket tetap saja dingin itu
menembus sampai ke kulit tipisku. Kami butuh istirahat dan menghangatkan badan.
Tenda siap, dan bergegas kami berkemas-kemas untuk menyiapkan kopi panas dan
indomie rebus.
“Foto sedang
menikmati indomie rebus dan kopi panas”
Menunggu matahari terbit menjadi
impian utama kami, berharap bangun lebih pagi dan mengurangi waktu tidur. Hingga
pagi tiba sekitar jam 04.00 pagi, melihat keluar tenda masih gelap gulita yang dipenuhi
kabut. Akhirnya kami menunggu sampai jam 05.00. rasa tidak kesabaran,
menyenangkan tercampur aduk semuanya. Semua kebahagiaan sulit diucapkan, untuk
pertama kalinya bagiku melihat sunrise seperti itu. Terasa ingin teriak
sekeras-kerasnya. Sangat ramai, para pendaki sudah berkeliaran mencari plot
untuk berfoto-foto. Kami pun tidak mau kalah.
Minggu, 27 September 2015
Pentingnya Komunikasi
Komunikasi merupakan hubungan atau pun percakapan antara seseorang dengan lawan bicaranya dengan memiliki kepentingan dan tujuan tertentu. Komunikasi yang kita tahu ada komunikasi lewat lisan atau pun tulisan. Kalau sudah terjadi miscommunication menjadi sangat fatal. Ngomong-ngomong, maaf ya kalau awal paragraf tulisan saya masih terlalu formal. Kalau sudah membahas tentang komunikasi jadi inget kejadian hari ini. Pagi ini memulai hari baru dan kertas kenangan yang baru lagi, melangkah dengan penuh semangat dan ceria menikmati awal pekan menuju kampus tercinta, pagi ini ada jadwal pengganti mata kuliah yang kosong sewaktu pekan depan. Kejadian yang tidak diinginkan pun terjadi, harus menunggu sekitar setengah jam lebih di keramaian para mahasiswa yang juga mengambil mata kuliah tersebut, kena harus menunggu? Pertanyaan yang di ajukan oleh benak ku. Permasalah akhirnya pun di ketahui, masalahnya mungkin sepele tapi akibatnya mengenai semua pihak yang harus menunggu dan menunggu. Masalahnya itu terjadinya miscommunication dari koordinator kelas mata kuliah yang kami ambil dengan mahasiswa angkatan 2015 yang sekarang sedang mengisi dan meduduki dengan santai kursi-kursi kelas yang seharusnya kami duduki. Koordinator kelas mata kuliah kami sudah mem-booking jauh-jauh hari untuk adanya pergantian jadwal dan ruangan. Akhirnya koordinator kelas menghadap ke dosen, dengan menanyakan bagaimana solusi terbaik. Dosen yang bertubuh tegap dan berparas tampan itu pun dengan wibawanya iya berkata, ya sudah kita mengalah, tidak mungkin kita mengusir mereka yang sedang menuntut ilmu dan kita ganti aja matakuliah ini besok. Kordinator dengan tegasnya menjawab siap pak..
Mungkin dari kisah yang saya rasakan ini, bisa kita kutip dan sama-sama kita belajar pentingnya komunikasi baik itu pihak pertama dan kedua atau pun dengan yang lainnya.
#Storycup.
Kamis, 17 September 2015
Ada Pertemuan Pasti Ada Perpisahan
Tidaklah kita tahu siapa cinta sejati kita, hati nan egois
seakan-akan selalu bertanya apakah cinta sejati itu? Dimanakah aku bisa
menemukannya? Padahal pencipta sudah memiliki skenario yang menentukan waktu
itu, dimana kita akan berpisah, berjumpa, bahagia, dan duka. Ingatlah kita
berusaha untuk bersyukur atas kuasaNya. Hati terbentuk sempurna pada manusia
serta pikiran dan akal. Memberikan kita kehidupan layak seorang manusia yang
mulia.
Senin, 06 Oktober 2014
Bintang Laut Mahkota Duri“Acanthaster planci”
Bintang laut Acanthaster
planci merupakan salah satu masalah besar yang potensial dihadapi di dalam
pengelolaan terumbu karang. Di antara pemangsa karang yang ada, A. planci adalah pemangsa karang yang
paling berbahaya ketika terjadi peledakan populasi (outbreak), sehingga hampir
seluruh karang hidup dimangsa oleh A.
planci. Kerusakan terumbu karang akibat A.
planci telah dilaporkan di seluruh dunia, misalnya Jepang, Australia,
Palau, Guam, Vanuatu, Papua, Vietnam dan Indonesia. Walaupun peledakan populasi
A. planci di Indonesia telah banyak
dilaporkan secara lisan, publikasi tentang masalah ini masih sangat sedikit.
Publikasi tentang A.planci yang
tersedia banyak berasal dari Jepang dan Australia. Kerusakan
terumbu karang yang dapat ditimbulkan oleh A.
planci sangat besar sehingga pengelolaannya membutuhkan dana yang besar
pula. Di Rukyu Islands, Jepang, kehadiran A. planci telah menelan biaya JPY 600
juta untuk memusnahkan 13 juta bintang laut antara tahun 1970-1983. Di
Indonesia, kehadiran A. planci telah
dilaporkan sejak tahun 1970-an oleh para peneliti LIPI, misalnya di sekitar
Ambon (Soegiarto) dan Kepulauan Seribu (Aziz and Soekarno). Kedua laporan
tersebut menunjukkan adanya A. planci
dalam jumlah kecil atau dalam kondisi masih kecil (belum dewasa). Peneliti LIPI
lainnya, Darsono dan Sukarno, telah mengamati adanya populasi A. planci di Kepulauan Seribu dari tahun
1991-1993 dan dilaporkan tidak ada peledakan populasi. Peledakan populasi baru
terjadi pada tahun 1995, yang dilaporkan di dalam suatu seminar, tetapi tidak
dalam suatu publikasi. Publikasi ilmiah tentang kerusakan terumbu karang
Indonesia akibat A. planci baru
dilakukan pada saat terjadi peledakan populasi di Kepulauan Banggai. Pada tahun
1996 juga dijumpai adanya pemangsaan karang oleh A. planci yang menghabiskan
hampir seluruh karang di Pulau Menjangan, Taman Nasional Bali Barat, dan Pantai
Bama, Taman Nasional Baluran (Bachtiar, unpublished data). Pada tahun 2005,
peledakan populasi (outbreak) bintang laut A.
planci dilaporkan terjadi di Pulau Kapoposang, Sulawesi Selatan.
A.
Taksonomi dan
Morfologi
Bintang laut planci dilaporkan pertama kali dari contoh hewan di Indonesia oleh George Rumphius pada tahun 1705, yang 50 tahun kemudian dideskripsikan Linnaeus pada tahun 1758, sehingga diperkirakan A. planci memang merupakan biota asli Indonesia. Genus terdiri atas tiga spesies, dua spesies lainnya adalah A. ellisi dan A. bervipinnus. A. ellisi merupakan bintang laut pemakan karang yang populasinya sangat jarang, hanya dilaporkan di Filippina. A. bervipinnus adalah bintang laut pemakan detritus (sampah organic). Ketiga spesies tersebut mempunyai genetik yang sangat mirip sehingga kadang terjadi hibrid di antara mereka. Di dalam evolusi, A. planci berasal dari A. brevipinnus yang mendapatkan kemampuan untuk memakan karang.
Bintang laut A. planci memiliki nama Indonesia sebagai terjemahan dari nama Inggrisnya ‘mahkota duri’ atau ‘mahkota berduri’. Menyebut atau menulis nama lengkap ‘bintang laut mahkota duri’ dianggap terlalu panjang, maka penulis mengusulkan digunakan nama kependekannya saja ‘BLMD’. Didalam komunikasi ilmiah berbahasa Inggris, para peneliti menggunakan nama ‘COT’ kependekan dari ‘crown of thorns’, sebagai pengganti A. planci. Di luar Indonesia, A. planci mempunyai nama lokal ‘alamea’ (Tonga, Samoa), ‘bula’ (Fiji) dan ‘rrusech’ (Palau).
Struktur tubuh A. planci sama dengan struktur umum dari Asteroidea. Badan berbentuk radial simetris, dengan tubuh mirip cakram bersumbu oral dan aboral yang mempunyai lengan-lengan. Bagian oral (mulut) menghadap ke bawah sedangkan bagian aboral menghadap ke atas. Di bagian aboral terdapat madreporit dan anus. Lubang madreporit berjumlah 6-13, sedangkan lubang anus berjumlah 1-6 buah. Bintang laut A. planci mempunyai lengan antara 8-21 buah. Duri-duri yang beracun berukuran 2-4 cm menghiasi permukaan aboral tubuh cakram dan lengan-lengannya.Warna tubuh A. planci dapat bervariasi antar lokasi. Di Cocos Island dan Christmas Island (barat daya Jawa), Australia, terdapat dua macam warna A. planci yang menunjukkan tipe Samudra Pasifik dan Samudra Hindia.
Bintang laut planci dilaporkan pertama kali dari contoh hewan di Indonesia oleh George Rumphius pada tahun 1705, yang 50 tahun kemudian dideskripsikan Linnaeus pada tahun 1758, sehingga diperkirakan A. planci memang merupakan biota asli Indonesia. Genus terdiri atas tiga spesies, dua spesies lainnya adalah A. ellisi dan A. bervipinnus. A. ellisi merupakan bintang laut pemakan karang yang populasinya sangat jarang, hanya dilaporkan di Filippina. A. bervipinnus adalah bintang laut pemakan detritus (sampah organic). Ketiga spesies tersebut mempunyai genetik yang sangat mirip sehingga kadang terjadi hibrid di antara mereka. Di dalam evolusi, A. planci berasal dari A. brevipinnus yang mendapatkan kemampuan untuk memakan karang.
Bintang laut A. planci memiliki nama Indonesia sebagai terjemahan dari nama Inggrisnya ‘mahkota duri’ atau ‘mahkota berduri’. Menyebut atau menulis nama lengkap ‘bintang laut mahkota duri’ dianggap terlalu panjang, maka penulis mengusulkan digunakan nama kependekannya saja ‘BLMD’. Didalam komunikasi ilmiah berbahasa Inggris, para peneliti menggunakan nama ‘COT’ kependekan dari ‘crown of thorns’, sebagai pengganti A. planci. Di luar Indonesia, A. planci mempunyai nama lokal ‘alamea’ (Tonga, Samoa), ‘bula’ (Fiji) dan ‘rrusech’ (Palau).
Struktur tubuh A. planci sama dengan struktur umum dari Asteroidea. Badan berbentuk radial simetris, dengan tubuh mirip cakram bersumbu oral dan aboral yang mempunyai lengan-lengan. Bagian oral (mulut) menghadap ke bawah sedangkan bagian aboral menghadap ke atas. Di bagian aboral terdapat madreporit dan anus. Lubang madreporit berjumlah 6-13, sedangkan lubang anus berjumlah 1-6 buah. Bintang laut A. planci mempunyai lengan antara 8-21 buah. Duri-duri yang beracun berukuran 2-4 cm menghiasi permukaan aboral tubuh cakram dan lengan-lengannya.Warna tubuh A. planci dapat bervariasi antar lokasi. Di Cocos Island dan Christmas Island (barat daya Jawa), Australia, terdapat dua macam warna A. planci yang menunjukkan tipe Samudra Pasifik dan Samudra Hindia.
B.
Pertumbuhan dan
Reproduksi
Pertumbuhan A. planci sangat dipengaruhi oleh makanannya. Anakan A. planci yang makan algae mempunyai pertumbuhan sekitar 2,6 mm/bulan, sedangkan yang makan karang mempunyai pertumbuhan sekitar 16,7 mm/bulan. Ketika dewasa, pertumbuhan melambat kembali menjadi sekitar 4,5 mm/bulan. Anakan A. planci yang berukuran kurang dari 10 mm memakan algae, sedangkan yang berukuran 10-160 mm sudah mulai memakan jaringan karang. Individu dewasa berukuran sekitar 250-400 mm, dengan rekor terbesar adalah 800 mm.
Bintang laut A. planci mempunyai kelamin yang terpisah (berkelamin tunggal), dengan pembuahan eksternal. Rasio kelamin biasanya 1:1 . Pemijahan terjadi pada musim panas. Di belahan bumi (hemisfer) utara, misalnya Jepang, pemijahan terjadi pada bulan Mei-Agustus. Di belahan bumi selatan, misalnya Australia, pemijahan terjadi pada bulan Nopember-Januari, atau Desember-April, Pemijahan berlangsung sekitar 30 menit. Individu dewasa biasanya bergerombol sebelum pemijahan, dan memijah secara bersama pada saatnya. Ketika seekor betina memijah, maka suatu feromon yang keluar bersama telur akan memicu pemijahan betina lain dan bintang laut jantan yang ada di sekitarnya. Efektivitas feromon dalam memicu pemijahan tetangganya diperkirakan seluas radius 1-2 meter. Pemijahan berjamaah ini sangat penting bagi invertebrata laut untuk meningkatkan peluang terjadinya pembuahan.
Pemijahan invertebrata banyak dipengaruhi oleh fluktuasi musiman suhu air laut. Pada saat ini, kebanyakan penelitian tentang pemijahan invertebrata dilakukan di kawasan yang mempunyai empat musim atau temperata. Di kawasan tropis, seperti Indonesia, perbedaan suhu air laut antar musim tidak sebesar di kawasan temperata, sehingga musim pemijahan di kawasan tropis dapat berbeda dari kawasan temperata. Karena itu, mengetahui musim pemijahan A. planci di Indonesia merupakan topik yang masih sangat menarik. Apalagi perairan laut Indonesia merupakan transisi antara Samudra Pasifik dengan Samudra Hindia. Fekunditas atau jumlah telur yang dihasilkan betina tergantung pada ukuran atau berat tubuh betina. Betina pemijah biasanya berumur 2-3 tahun, atau ukuran diameter tubuhnya lebih dari 25 cm. Betina yang dewasa mempunyai ukuran tubuh 500-4000 gram, yang memiliki fekunditas sekitar 4-65 juta telur.. Ukuran telur dan sperma ini tidak banyak berbeda dengan ukuran umum gamet invertebrata laut.
Pertumbuhan A. planci sangat dipengaruhi oleh makanannya. Anakan A. planci yang makan algae mempunyai pertumbuhan sekitar 2,6 mm/bulan, sedangkan yang makan karang mempunyai pertumbuhan sekitar 16,7 mm/bulan. Ketika dewasa, pertumbuhan melambat kembali menjadi sekitar 4,5 mm/bulan. Anakan A. planci yang berukuran kurang dari 10 mm memakan algae, sedangkan yang berukuran 10-160 mm sudah mulai memakan jaringan karang. Individu dewasa berukuran sekitar 250-400 mm, dengan rekor terbesar adalah 800 mm.
Bintang laut A. planci mempunyai kelamin yang terpisah (berkelamin tunggal), dengan pembuahan eksternal. Rasio kelamin biasanya 1:1 . Pemijahan terjadi pada musim panas. Di belahan bumi (hemisfer) utara, misalnya Jepang, pemijahan terjadi pada bulan Mei-Agustus. Di belahan bumi selatan, misalnya Australia, pemijahan terjadi pada bulan Nopember-Januari, atau Desember-April, Pemijahan berlangsung sekitar 30 menit. Individu dewasa biasanya bergerombol sebelum pemijahan, dan memijah secara bersama pada saatnya. Ketika seekor betina memijah, maka suatu feromon yang keluar bersama telur akan memicu pemijahan betina lain dan bintang laut jantan yang ada di sekitarnya. Efektivitas feromon dalam memicu pemijahan tetangganya diperkirakan seluas radius 1-2 meter. Pemijahan berjamaah ini sangat penting bagi invertebrata laut untuk meningkatkan peluang terjadinya pembuahan.
Pemijahan invertebrata banyak dipengaruhi oleh fluktuasi musiman suhu air laut. Pada saat ini, kebanyakan penelitian tentang pemijahan invertebrata dilakukan di kawasan yang mempunyai empat musim atau temperata. Di kawasan tropis, seperti Indonesia, perbedaan suhu air laut antar musim tidak sebesar di kawasan temperata, sehingga musim pemijahan di kawasan tropis dapat berbeda dari kawasan temperata. Karena itu, mengetahui musim pemijahan A. planci di Indonesia merupakan topik yang masih sangat menarik. Apalagi perairan laut Indonesia merupakan transisi antara Samudra Pasifik dengan Samudra Hindia. Fekunditas atau jumlah telur yang dihasilkan betina tergantung pada ukuran atau berat tubuh betina. Betina pemijah biasanya berumur 2-3 tahun, atau ukuran diameter tubuhnya lebih dari 25 cm. Betina yang dewasa mempunyai ukuran tubuh 500-4000 gram, yang memiliki fekunditas sekitar 4-65 juta telur.. Ukuran telur dan sperma ini tidak banyak berbeda dengan ukuran umum gamet invertebrata laut.
C.
Siklus Hidup
Siklus hidup A. planci pada prinsipnya sama persis dengan pola siklus hidup hewan Asteroidea (bintang laut) yang lainnya. Zigot yang terjadi pada saat pemijahan berkembang melalui proses-proses blastulasi dan gastrulasi yang kemudian memasuki tahapan dua fase larva secara berurutan, yaitu bipinnaria dan brachiolaria. Kedua larva tersebut hidup sebagai plankton sehingga pergerakannya mengikuti arah arus. Larva brachiolaria yang matang mempunyai daya apung negatif sehingga turun ke dasar laut yang biasanya di kawasan terumbu karang. Diduga larva brachiolaria menggunakan ‘aroma’ alga berkapur sebagai tanda-tanda untuk turun menempel pada terumbu karang. Setelah menempel di dasar terumbu, dimulailah kehidupan sebagai bentos bagi A. planci. Penempelan larva A. planci kemungkinan terjadi di tempat yang dalam karena pemangsaan karang oleh A. planci biasanya dimulai dari karang di tempat yang dalam.
Periode planktonis dari A. planci berlangsung sekitar dua atau tiga minggu, makanan larva planktonis A. planci terdiri dari fitoplanton (khususnya pikoplankton), bakteri dan bahan organik terlarut. Periode planktonis larva brachiolaria diakhiri dengan berkembangnya lima lengan melalui metamofosis dan menempel di dasar terumbu. Metamorfosis tersebut terjadi setelah hari ke-12. Ukuran diameter A. planci pada saat terjadi penempelan sekitar 0,5-1 mm atau 500-1000 mikron. Anakan A. planci yang sudah menempel di terumbu mendapatkan makanan dari alga berkapur. Pada umur sekitar 4-6 bulan, ketika ukuran tubuhnya mencapai 10 mm, A. planci merubah makanannya menjadi pemangsa karang dan mampu tumbuh jauh lebih cepat.
Siklus hidup A. planci pada prinsipnya sama persis dengan pola siklus hidup hewan Asteroidea (bintang laut) yang lainnya. Zigot yang terjadi pada saat pemijahan berkembang melalui proses-proses blastulasi dan gastrulasi yang kemudian memasuki tahapan dua fase larva secara berurutan, yaitu bipinnaria dan brachiolaria. Kedua larva tersebut hidup sebagai plankton sehingga pergerakannya mengikuti arah arus. Larva brachiolaria yang matang mempunyai daya apung negatif sehingga turun ke dasar laut yang biasanya di kawasan terumbu karang. Diduga larva brachiolaria menggunakan ‘aroma’ alga berkapur sebagai tanda-tanda untuk turun menempel pada terumbu karang. Setelah menempel di dasar terumbu, dimulailah kehidupan sebagai bentos bagi A. planci. Penempelan larva A. planci kemungkinan terjadi di tempat yang dalam karena pemangsaan karang oleh A. planci biasanya dimulai dari karang di tempat yang dalam.
Periode planktonis dari A. planci berlangsung sekitar dua atau tiga minggu, makanan larva planktonis A. planci terdiri dari fitoplanton (khususnya pikoplankton), bakteri dan bahan organik terlarut. Periode planktonis larva brachiolaria diakhiri dengan berkembangnya lima lengan melalui metamofosis dan menempel di dasar terumbu. Metamorfosis tersebut terjadi setelah hari ke-12. Ukuran diameter A. planci pada saat terjadi penempelan sekitar 0,5-1 mm atau 500-1000 mikron. Anakan A. planci yang sudah menempel di terumbu mendapatkan makanan dari alga berkapur. Pada umur sekitar 4-6 bulan, ketika ukuran tubuhnya mencapai 10 mm, A. planci merubah makanannya menjadi pemangsa karang dan mampu tumbuh jauh lebih cepat.
Gambar: Acanthaster planci
Sumber: Imam Bachtiar (Pusat Penelitian Pesisir dan Laut, Universitas Mataram)
Sabtu, 10 Mei 2014
EL-NINO DAN LA-NINA
El-Nino
El Nino adalah gejala gangguan iklim yang diakibatkan oleh naiknya
suhu permukaan laut Samudera Pasifik sekitar khatulistiwa bagian tengah dan
timur. Naiknya suhu di Samudera Pasifik ini mengakibatkan perubahan pola angin
dan curah hujan yang ada di atasnya. Pada saat normal hujan banyak turun di
Australia dan Indonesia, namun akibat El Nino ini hujan banyak turun di
Samudera Pasifik sedangkan di Australia dan Indonesia menjadi kering.
La-Nina
La Nina adalah gejala gangguan iklim yang diakibatkan suhu
permukaan laut Samudera Pasifik dibandingkan dengan daerah sekitarnya. Akibat
dari La Nina adalah hujan turun lebih banyak di Samudera Pasifik sebelah barat
Australia dan Indonesia. Dengan demikian di daerah ini akan terjadi hujan lebat
dan banjir di mana-mana.
Faktor Penyebab El
Nino dan La Nina
Pada saat normal angin
passat bertiup dari tekanan tinggi Sub Tropis (dari arah timur) menuju tekanan
rendah ekuator (barat). Sehingga air hangat Samudera Pasifik berkumpul di
pantai Utara Australia dan pantai Indonesia. Hal inilah yang mengakibatkan
hujan di Australia dan Indonesia. Namun pada dua tahun sampai tujuh tahun
sekali Angin Passat tersebut berubah arah. Yang semula dari arah timur ke barat
berubah menjadi arah barat ke arah timur. Hal inilah mengakibatkan El Nino
yaitu di Samudera Pasifik dan Indonesia berkurang curah hujan dari biasanya.
Kemudian untuk La Nina terjadi karena angin passat bertiup dengan kencang dan
terus menerus melewati Samudera Pasifik menuju Australia. Angin Passat ini akan
mendorong lebih banyak air hangat di Samudera Pasifik menuju Australia Utara
sehingga hujan hanyak turun di Samudera Pasifik Barat, Australia Utara dan
Indonesia.






