Senin, 21 Desember 2015
Zaman
sekarang banyak anak yang diterlantarkan karena segi ekonomi tidak dapat
mencukupi kebutuhan keluarga, dan merelakan anak-anaknya menjadi pekerja keras
dibawah umur dan tidak menginyam pendidikan yang layak seperti teman-teman
seumurannya. Kurangnya perhatian serta kasih sayang dari orang tua maupun orang
di sekitar lingkungannya sungguh berpengaruh pada mental dan perkembangan bagi
anak. Anak tetaplah anak, dengan segala ketidakmandirian yang ada sangatlah
membutuhkan perlindungan dan kasih sayang dari orang dewasa di sekitarnya. Anak
mempunyai berbagai hak yang harus diimplentasikan dalam kehidupan dan
penghidupan mereka. Hak-hak anak sudah tertuang jelas di dalam undang-undang.
Seperti undang-undang No. 4 Tahun 1979 membahas tentang kesejahteraan anak dan
undang-undang No. 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak. Pendidikan sangat
penting untuk anak, karena salah satu hak anak. Setiap anak tidak pernah
diminta untuk dilahirkan. Tetapi sekali ia lahir, ia berhak untuk mendapatkan
perlindungan hukum. Sejauh manakah anak menaruh hormat dan segan terhadap orang
dewasa, sangat bergantung dari sejauh manakah orang tuanya mampu mendidik dan
menanamkan kesadaran menghormati orang tua dan orang lain.
Anak
adalah bagian dari generasi muda salah satu sumber daya manusia yang merupakan
potensi dan penerus cita-cita perjuangan bangsa. Memiliki peranan strategis dan
mempunyai ciri dan sifat khusus. Anak sangat memerlukan pembinaan dan
perlindungan dalam rangka pertumbuhan dan perkembangan fisik, mental dan sosial
secara utuh, serasi, selaras, dan seimbang. Orang dewasa berperan penting untuk
melaksanakan pembinaan dan perlindungan terhadap anak, diperlukan dukungan
secara terus menerus terhadap bakat dan kepandaiannya agar membangun kapasitas
diri anak. Dan dukungan baik menyangkut kelembagaan maupun perangkat hukum yang
lebih mantap dan memadai, oleh karena itu ketentuan mengenai penyelenggaraan
pengadilan bagi anak perlu dilakukan secara khusus.
Orang
tua dituntut untuk mendidik dan membimbing anak-anaknya kepada agama yang
sesuai dengan fitrah (naluri manusia) agar mereka memiliki akhlak mulia dan
menjadi manusia yang taqwa. Anak adalah bagaikan kertas putih, dan kitalah yang
memberikan corak warna nan indah di kertas tersebut. Jika kita memberi corak
(bimbingan) yang buruk maka hasil di kertas tersebut amatlah jelek dan tidak
layak untuk di lihat ataupun di puji. Begitu pun sebaliknya, jika corak
(bimbingan) yang kita berikan baik dan elok, maka hasilnya juga elok nian.
Kesalahan
yang lazim di era sekarang ialah bila anak diperlakukan sama dengan orang
dewasa lantas dimintai pertanggung jawaban atas segalanya, itu sangatlah tidak
wajar. Ketika anak harus mentaati semua tata-nilai yang terkadang belum
difahami anak dan orang tua selalu menuntut kepada anak berbagai hal. Bila tidak ada pemahan dari orang tua
terhadap hak anak, maka akan terjadinya pertikaian antara anak dengan orang
tua. Oleh sebab itu, orang tua harus memahami keinginan dan kebutuhan anak
selama perkembangannya, baik itu membimbingnya dan memberikan perhatian khusus kepada anak.
Deklarsi
PBB juga telah mengutarakan tentang Hak-hak anak. Sala satunya, bahwa seorang
anak harus menikmati perlindungan yang khas, harus diberi kesempatan dan
kemungkinan baik oleh hukum atau dengan cara lain agar ia dapat
memperkembangkan jasmaniahnya, rohani, budi pekerti, kecerdasan dan keadaan
sosial dengan cara yang sehat dan biasa, dalam alam kemerdekaan dan kehormatan.
Menjalankan hukum ini merupakan kepentingan utama dari seorang anak yang harus
didahulukan.
Itulah
sedikit ilmu yang bisa saya bagi ke teman-teman pembaca, semoga bermanfaat. Dan semoga kita sebagai calon orang tua atau berstatus orang
tua saat ini, memahami hak-hak anak dan bagaimana harus menyikapinya.
Referensi :
Hasyim
Umar. (1983). Anak Shaleh Seri II (Cara
mendidik anak dalam Islam). Surabaya. Bina Ilmu. Hal. 119.
Siregar.
B. dkk. (1986). Hukum dan Hak-hak Anak. Jakarta. Yayasan LBH Indonesia.
Hal. 5.
Nashriana.
(2011). Perlindungan Hukum Pidana Bagi Anak Indonesia. Jakarta. Raja
Grafindo Persada. Hal. 13.
Minggu, 20 Desember 2015
Perjalanan Tak Kunjung Usai (Sang Pencari)
Siti Asyari
Desember 20, 2015
Fiksi, Fiksi dan Non Fiksi, Kata Hati
No comments
Tidak sedikit pun niat untuk menoleh kebelakang
dengan posisi badan tegap dan mantap tajam ke arah depan seperti melihat satu
titik tumpu. Berusaha untuk berlari kencang tapi apa daya, jalan begitu terjal
dan bebatuan yang menggenaskan membuat sang pencari tidak dapat berlari
kencang. Matahari mulai berlahan naik ke atas langit hingga tepat sejajar
dengan ubun-ubun. Tetesan air keringat sudah tidak terhitung jumlahnya yang mengenai
tanah bumi, tetepi sang pencari tidak mengenal kata lelah dan berusaha untuk
berlari menggapai keinginan yang ingin ia diwujudkan. Panas terasa membakar
tubuh, pecahan batuan tajam seakan merobek telapak kaki, pukulan rombongan debu
sampai mengiris muka, inilah perjalan tak kunjung usai oleh sang pencari. Tidak
ada kompas sebagai petunjuk arah, tidak ada peta sebagai alat pandu, hanya
berbekal tekad nan egois untuk sebuah pencapaian. Berharap ada seseorang yang
melintas didekatnya agar dapat bertanya “kemana arah jalan ini?” tapi semua itu
tidak akan mungkin terjadi, daerah yang jauh dari peradaban manusia, dan
mungkin hanya ada binatang buas yang akan menyapa hingga menerkamnya.
Bermil-mil perjalanan yang telah dilalui
hingga senja pun tiba, menggunakan waktu sejenak untuk beristirahat, sambil
menghilangkan dahaga dengan perbekalan air seadanya. Hamparan batuan dan
kerikil begitu senantiasa menemani istirahatnya. Perjalanan akan dilanjutkan
besok pagi. Disela-sela istirahat sang pencari menyempatkan diri memandang ke
atas langit, melihat keindahan beribu-ribu cahaya bintang yang terhempas di
langit, secara berlahan tangan ingin merenggut salah satu cahaya itu, tapi
semua usaha itu berakhir sia-sia karena cukup jauh untuk menjangkaunya. Sempat
sang pencari bertanya dengan jiwanya ”kenapa bintang memiliki cahaya, membuat
setiap orang bahagia ketika melihatnya, kenapa?” Berbeda halnya dengan diriku,
tidak ada yang spesial dari jiwa dan raga ini, hanya sebuah kesedihan dan
penderitaan yang kudapat di muka bumi. Bintang mimiliki cahaya membuat banyak
orang tertawa dan tersenyum dengan penuh kemesraan, sedangkan saya? Kebimbangan
dan rasa lelah sang pencari berujung kediaman karena sudah tertidur lelap dalam
mimpinya.
Seseorang kira-kira berumur 60 tahun-an dengan
berpakaian kumuh datang mendekati sang pencari, mulai ada perbincangan antara satu
sama lain. Orang tua itu bertanya “apa yang engkau cari anak muda?” Seorang tak
kenal itu seakan terasa asing bagi sang pencari, dengan sambil berfikir sang
pencari pun menjawab “aku hanya ingin sampai di ujung jalan ini, yang berakhir dengan
kebahagiaan”. Tentu kamu tidak akan menemukan akhir jalan ini nak, ucap orang
tua tersebut. Sang pencari pun heran ketika mendengarkan perkataan sekilas yang
disampaikan orang tua itu. Dengan keegoisan sang pencari benaknya sampat
berkata “ tidak mungkin, setiap jalan pasti akan ada akhir atau ujung jalannya”
wajah kesal yang ditampakkan oleh sang pencari tehadap orang tua itu. Nak, aku
tau apa yang sedang kamu pikirkan, bahkan kamu tidak percaya dan beranggapan
itu tidak mungkin, iya kan? Tapi ya sudah lupakan saja, semua keputusan ada
dipihak kamu anak muda. Hanya ada satu pesan dari saya nak, “janganlah engkau esok
menyesal karena keputusan yang sudah kamu pilih hari ini”. Belum sempat sang
pencari bertanya asal orang tua dan maksudnya dari perkataannya, orang tua itu sudah
membelakangi dan melangkah meninggalkan sang pencari dengan tongkat tuanya. Berusaha
sang pencari untuk mengejar tetapi karena sebuah batu dihadapan kaki, membuat
sang pencari terjungkal, dan berusaha melihat ke arah orang tua itu, tapi
sayang kini hanya terlihat bayangan yang menghilang dari kejauhan oleh sosok orang
tua tadi. Rasa sakit karena jatuh dan rasa tidak percaya membuat sang pencari
bangun dari mimpinya.
Semua perlengkapan sudah ditata didalam tas
besar yang telah disandang, siap melanjutkan perjalanan kembali, udara pagi nan
sejuk seakan sejenak menenangkan pikiran dan hatinya. karena begitu menikmati
dan menghayati kesejukan pagi. Semangat drastis meningkat untuk melanjuti
perjalanan.
Bersambung..
Jumat, 18 Desember 2015
Ibu
Siti Asyari
Desember 18, 2015
Fiksi dan Non Fiksi, Kata Hati, Non Fiksi
No comments
Maafkan aku Ibu, tidak ada sesuatu yang spesial ataupun berbentuk barang yang bisa aku berikan untuk Ibu. Aku hanya punya kasih sayang ini Ibu dan itu sangat tulus dari hatiku. Jasamu tidak penah tergantikan oleh apapun. Sampai kapan pun aku akan selalu mencintai dan menyayangimu Ibu.
Kamis, 17 Desember 2015
Merindukan Tanah Kelahiran
Siti Asyari
Desember 17, 2015
Fiksi dan Non Fiksi, Kata Hati, Non Fiksi
No comments
Tidak sedikit kerabatKu menanyakan kapan aku pulang. Ingin sekali aku berjumpa denganmu, ucapnya. Bahkan, adapun kerabat dekatKu setelah lulus SMK sampai saat ini belum pernah bersua. Tak bisa digambarkan rasa rindu itu, diibaratkan seperti darah yang telah mengalir disekujur tubuh dalam diri seseorang. Semoga Allah mengizinkan dan memberi waktu untuk kita berjumpa kembali dan menceritakan masa-masa kenangan disaat dulu kita masih bersama..
Selasa, 20 Oktober 2015
NgeCamp di Bukit Tranggulasih
Jalan-jalan adalah hobiku. Kalau sudah
terdengar ajakan untuk menjelajah ataupun mencicipi lokasi wisata, jawaban
tegasku menyambut dengan lembut, kapan? Di mana? Dan dengan siapa? Dan tidak
mungkin aku menolaknya. Tepat pada tanggal 13 oktober 2015, tim eksplore kami mengusulkan ke lokasi
wisata bukit Tranggulasih yang terletak di kecamatan Baturraden. Sepakat sepuluh
orang bisa berangkat di hari itu dan usulanku pun diterima untuk camping, awalnya sih teman-teman ingin
berangkat pagi sekitar jam 03.00, tapi saya tidak yakin, pasti semua orang akan
terlelap nyenyak dalam mimpi indahnya. Akhirnya saya mengusulkan, alangkah
baiknya kita camping saja, bisa jadi
kita tidak akan telat melihat sunrise-nya.
Impian bagi para wisata yang berkunjung ke bukit Tranggulasih adalah dapat
melihat sunrise dan pemandangan indah
yang dilihat dari atas bukit. Perlengkapan yang dibutuhkan mulai aku menyewanya
seperti dua tenda yang berkapasitas 4-5 orang dan kompor gas portable serta nestingnya. Makanan dan
yang lainnya, termasuk tanggungan pribadi masing-masing.
Pukul 00.00 perjalanan dimulai. Hawa
dingin mulai meresap secara lambat menusuk bagian jaket. Perjalanan memakan
tiga puluh menit ke atas Bukit Tranggulasih, tetapi karena kami memilih jalur
yang salah, waktu termakan begitu pesat. Berkilo-kilometer jauhnya kami salah
arah. Mendaki dan menurun membuat motor kami mengeluarkan wangian khasnya. Dan kami
harus kembali di pertigaan awal jalan, setelah kami bertanya dengan seseorang
yang sedang sibuk mengurusi aksi jurit malam mahasiswa pencinta alam. Sekitar satu
jam lebih akhirnya kami sampai di Bukit Tranggulasih Baturraden. Menitipkan motor
dan mulai kami bersama-sama mendaki sekitar 200 meter ke tempat tujuan. Sesampai
di atas Bukit, kami mencari tanah yang datar untuk mendirikan tenda. Seselai jam
setengah 03.00 pagi, setelah bercakap-cakap sebentar di tenda sambil menikmati
pemandangan cahaya dari atas Bukit dan canda tawa, akhirnya kami semua
memutuskan untuk tidur sejenak. Dan mengingatkan teman-teman agar bisa
membangunkan satu sama lain di pagi hari untuk melihat sunrise. Inilah pengalaman yang bermakna dan menyenangkan dengan
teman-teman kelasku di hari libur. Tidak akan pernah dilupakan momen terbaik
ini. Menikmati sunrise walaupun
sedikit tertutupi oleh awan mendung yang tdak bersahabat, tapi tidaklah apa,
pemandangan indahnya tetap saja tidak pudar. Inilah perjalanan ekowisataku,
mana ceritamu?
"Foto Narsis deh"
"Foto bareng setelah melihat sunrise"
Senin, 19 Oktober 2015
Penjelajah Gunung Prau 2565MDPL
“Foto narsis sebelum berangkat”
Perjalan telah dimulai, melaju
dengan kecepatan normal dari kota kecil kami ke kota tujuan. Selama dua jam
lebih kami sampai di kabupaten wonosobo. Senang tak tertahankan, sudah dekat
tujuan kami. Tapi selama perjalanan sempat kami juga untuk melepaskan letih
sesaat di bakul Salak pondo di Banjarnegara. Setelah itu melanjutkan kembali
perjalanan. Perut mulai tidak bersahabat, perang rasa lapar terjadi ketika kami
sampai di kota Wonosobo jam 21.15. Nasi goreng, menu spesial kami malam itu.
Serempak kami memilih saat melihat buku menu yang diberikan oleh penjual. Kita
sadar dompet tipis kami tidak dapat memilih menu nasi goreng seafood, tekor kita. Dengan serempaknya
kami memilih menu nasi goreng telur, yang paling murah harganya di daftar menu
dan teh hangat pelengkap makan malam kami.
“Foto dinner bareng.”
Jarak dari kota wonosobo ke dieng
tidaklah jauh, bisa ditempuh sekitar dua puluh menit, tapi karena jalannya
mendaki dan menanjak motor yang kami lajukan sampai tidak sanggup. Akhinya
memakan waktu hampir satu jam. Tiba di Dieng sekitar jam 22.00, setelah
menitipkan motor dan mengurus administrasi lainnya di basecamp pendakian. Mulai
kami mendaki, gelap gulita malam yang menemani kami. Senter tangan dan headlamp selalu setia menerangi. Jalan
penuh debu dan batuan besar yang menanti di depan dan setiap rute pendakian. Duka senang kami
rasakan, mulai dari mendaki hingga sampai di camp sunrise, itulah tujuan kami. Dua jam hingg kami sampai di
puncak, mendirikan tenda di sela-sela dinginnya malam yang tidak bisa ku tahan.
Walaupun dengan baju yang berlapis dua dan memakai jaket tetap saja dingin itu
menembus sampai ke kulit tipisku. Kami butuh istirahat dan menghangatkan badan.
Tenda siap, dan bergegas kami berkemas-kemas untuk menyiapkan kopi panas dan
indomie rebus.
“Foto sedang
menikmati indomie rebus dan kopi panas”
Menunggu matahari terbit menjadi
impian utama kami, berharap bangun lebih pagi dan mengurangi waktu tidur. Hingga
pagi tiba sekitar jam 04.00 pagi, melihat keluar tenda masih gelap gulita yang dipenuhi
kabut. Akhirnya kami menunggu sampai jam 05.00. rasa tidak kesabaran,
menyenangkan tercampur aduk semuanya. Semua kebahagiaan sulit diucapkan, untuk
pertama kalinya bagiku melihat sunrise seperti itu. Terasa ingin teriak
sekeras-kerasnya. Sangat ramai, para pendaki sudah berkeliaran mencari plot
untuk berfoto-foto. Kami pun tidak mau kalah.
Minggu, 27 September 2015
Pentingnya Komunikasi
Komunikasi merupakan hubungan atau pun percakapan antara seseorang dengan lawan bicaranya dengan memiliki kepentingan dan tujuan tertentu. Komunikasi yang kita tahu ada komunikasi lewat lisan atau pun tulisan. Kalau sudah terjadi miscommunication menjadi sangat fatal. Ngomong-ngomong, maaf ya kalau awal paragraf tulisan saya masih terlalu formal. Kalau sudah membahas tentang komunikasi jadi inget kejadian hari ini. Pagi ini memulai hari baru dan kertas kenangan yang baru lagi, melangkah dengan penuh semangat dan ceria menikmati awal pekan menuju kampus tercinta, pagi ini ada jadwal pengganti mata kuliah yang kosong sewaktu pekan depan. Kejadian yang tidak diinginkan pun terjadi, harus menunggu sekitar setengah jam lebih di keramaian para mahasiswa yang juga mengambil mata kuliah tersebut, kena harus menunggu? Pertanyaan yang di ajukan oleh benak ku. Permasalah akhirnya pun di ketahui, masalahnya mungkin sepele tapi akibatnya mengenai semua pihak yang harus menunggu dan menunggu. Masalahnya itu terjadinya miscommunication dari koordinator kelas mata kuliah yang kami ambil dengan mahasiswa angkatan 2015 yang sekarang sedang mengisi dan meduduki dengan santai kursi-kursi kelas yang seharusnya kami duduki. Koordinator kelas mata kuliah kami sudah mem-booking jauh-jauh hari untuk adanya pergantian jadwal dan ruangan. Akhirnya koordinator kelas menghadap ke dosen, dengan menanyakan bagaimana solusi terbaik. Dosen yang bertubuh tegap dan berparas tampan itu pun dengan wibawanya iya berkata, ya sudah kita mengalah, tidak mungkin kita mengusir mereka yang sedang menuntut ilmu dan kita ganti aja matakuliah ini besok. Kordinator dengan tegasnya menjawab siap pak..
Mungkin dari kisah yang saya rasakan ini, bisa kita kutip dan sama-sama kita belajar pentingnya komunikasi baik itu pihak pertama dan kedua atau pun dengan yang lainnya.
#Storycup.
Kamis, 17 September 2015
Ada Pertemuan Pasti Ada Perpisahan
Tidaklah kita tahu siapa cinta sejati kita, hati nan egois
seakan-akan selalu bertanya apakah cinta sejati itu? Dimanakah aku bisa
menemukannya? Padahal pencipta sudah memiliki skenario yang menentukan waktu
itu, dimana kita akan berpisah, berjumpa, bahagia, dan duka. Ingatlah kita
berusaha untuk bersyukur atas kuasaNya. Hati terbentuk sempurna pada manusia
serta pikiran dan akal. Memberikan kita kehidupan layak seorang manusia yang
mulia.






