Rabu, 03 Februari 2016
Sore
ini suasana lumayan sejuk, udaranya sangat menyenangkan ketika dihirup. Tak pernah
lupa tuk terus bersyukur. Melihat warna-warni hidup, kebiasaan masyarakat saat
melakukan aktivitas di sore hari. Kita tahu rezeki sudah ada yang mengatur, hal
paling terpenting adalah ikhtiar dan doa jangan sampai kita lupakan. Pandangan
kita, uang berarti segalanya untuk membeli kebutuhan sehari-hari dan semua itu
harus tercukupi. Terkadang kita sendiri pernah mengecap hidup ini kejam dan
sulit ketika keuangan di dalam keluarga minim, karena keberadaan uang guna memenuhi
semua kebutuhan biaya sekolah anak, perlengkapan rumah, dan sebagainya. Orang
tua sebagai tulang punggung yang bertanggung jawab atas segalanya, mencari
nafkah yang tak kenal lelah. Pernahkah kita berfikir bahwa kehidupan kita sudah
layak? Terkadang kita lupa bersyukur kepada Mahapemberi, padahal diluar sana
masih banyak orang-orang masih serba kekurangan dalam segi material.
Sedikit
cerita tentang seorang bapak tukang becak. Di kota mendoan ini, masih banyak
kalangan keluarga mencari nafkah dengan menggunakan transportasi tradisional
(Becak), dengan mengayuh sampai berkilo-kilo meter jauhnya, dan upah bayarnya pun
hanya sedikit. Rasa belasku membuat hati rapuh dan menetaskan air mata. Saat jalan
medaki bapak dengan sekuat tenaga mendorong becaknya dan di saat jalan menurun bapak
menahan kampas rem serta suara khas klakson klasiknya dari kaleng. Melihat kondisi
lalu-lalang motor di kota ini sangat mengerikan, kebut-kebutan tidak karuan,
bisa terancam tukang becak sebut benakku.
Lelah
dan cucuran keringat tak menghalanginya bapak untuk bekerja keras. Dengan kemajuan
teknologi dan keterbatasan lowongan pekerjaan, hanya itu yang bisa dilakukan
sebagai tonggak pencari nafkah. Pendidikan pun rendah, maklum pada zaman dahulu
yang bisa menginyam pendidikan hanya orang-orang tertentu dan orang-orang yang
finansialnya rendah memilih menjadi buruh atau budak. Kini, pendidikan di
pandang sangat penting apalagi syarat untuk melamar pekerjaan.
Sebagian
orang ada yang menawar harga karena tidak kesesuaian harga yang diinginkan,
jika melihat keuntungan dari hasil jerih payah tukang becak sangat kecil dibanding
tenaga yang dikeluarkan. Tukang becak selalu mempertimbangkan harga untuk
memuaskan penumpang, tapi kita ketahui, sekarang dengan padat persaingan
apalagi sudah ada transportasi umum, dan kendaraan pribadi, masih inginkah kita
untuk menawar? Hitung-hitung kita besedekah. Pernahkah terbayangkan oleh benak
kita, dalam sehari berapa lama ia harus menuggu penumpang untuk menunggangi
becaknya. Terkadang dalam satu hari pun tidak ada penumpang, membawa tangan
kosong ketika pulang. Tapi dengan tekad bapak, ia yakin rezeki sudah ada yang
mengatur.
Semoga
ini menjadi renungan kita bersama, saling mengerti kondisi dan keadaan
orang-orang di sekitar kita. Pedulilah, bahkan kejadian apapun bisa menjadikan
makna tersendiri. Semoga kita selalu semangat dan kerja keras serta doa yang tak
kunjung putus.
Selasa, 29 Desember 2015
Panggung Banyumas Rongewu Limolas (Panggung Banyumas 2015)
Panggung
Banyumas Rongewu Limolas (Panggung Banyumas 2015). Kegiatan tersebut merupakan agenda
rutin yang digelar setiap tahun oleh Dewan Kesenian Kabupaten Banyumas (DKKB) yang
kali ini diselenggarakan pada tanggal 26-27 Desember 2015 di Taman Rekreasi Andhang
Pangrenan. Untuk tahun ini, diadakan berbagai
kegiatan antara lain: Pemilihan Rama Biyung Banyumas 2015, Lomba Stand Up
Comedy Banyumasan, dan Lomba Fashion
Show Batik Nusantara. Acara ini juga disemarakkan dengan penampilan dari
Sopsan, Gethek, Blues and Rock dari Deny Music, Tari
Wira Pertiwi dari sanggar Halawangsa, dan Tari Piring dari IKAMMI UNSOED
(Ikatan Keluarga Mahasiswa Minang Universitas Jenderal Soedirman ).
Tari Piring, tari
yang tepat untuk ditampilkan. Tak dipungkiri, Tari Piring sudah lazim dikenal
dikalangan masyarakat, terutama masyarakat Jawa. Jika kami
menampilkan tarian lain seperti Tari Randai ataupun Tari Indang, belum tentu
masyarakat disini mengetahuinya. Jika
pun ada yang tahu, kemungkinan sangat minim.
Singkat cerita,
kami menampilkan Tari Piring di acara tersebut karena IKAMMI UNSOED kenal
dengan Bendahara Kesenian Kabupaten Banyumas, yaitu Bapak Rohadi. Beliau meminta
kami untuk mengisi di acara Panggung Banyumas
Rongewu Limolas. “Bagaimana jika kalian menampilkan Tari Piring khas Sumatera
Barat, karena tari piring ini terlihat menarik.” ucapnya. Sempat
merasa kaget dan juga ragu-ragu untuk mengiyakan bahwa kami bisa tampil di
acara bergengsi tersebut. Kami
hanya memiliki waktu 2 minggu. Waktu yang singkat membuat kami cukup sulit
meluangkan waktu untuk berlatih karena adanya perbedaan jadwal kuliah. Dan
akhirnya,walaupun baru berumur satu tahun, IKAMMI UNSOED
dengan sigap serta rasa percaya diri menyanggupi tawaran
untuk tampil di acara bergengsi Kabupaten Banyumas tersebut demi citra
Kabupaten Banyumas dan ranah kami Sumatera Barat. Dengan
kebersamaan yang dilalui serta semangat untuk berlatih, rasa percaya diri itu
seakan muncul dan meyakinkan kami untuk bisa tampil maksimal walaupun
harus pergi pagi-pulang malam.
Tari Piring yang
akan ditampilkan hanya berkisar waktu 8 menit, setelah
Tari Wira Pertiwi yang merupakan tarian yang berasal dari Jawa Tengah. Tari Wira Pertiwi
terlihat unik bagi kami. Tarian ini mencerminkan sosok kepahlawanan seorang
prajurit perempuan Jawa. Dengan
membawa panahan di tangan kiri dan tangan
kanan seakan menarik tuas tali panahan, tatapan mata yang tajam, serta ekspresi
wajah tegas menggambarkan karakter wibawa seorang prajurit.
Sedangkan,
Tari Piring merupakan tarian khas Sumatera Barat atau Minangkabau. Semua tarian di Nusantara
memiliki filosofi, termasuk Tari Piring ini. Tari Piring menggambarkan
kekompakan dan kebersamaan masyarakat Minangkabau. Dahulu, tarian
ini merupakan ungkapan rasa syukur kepada dewa atas hasil panen. Tetapi
setelah ajaran Islam masuk ke Sumatera Barat,makna tarian ini mengalami
pergeseran. Tidak lagi dipersembahkan
untuk dewa, melainkan untuk ditampilkan pada acara pernikahan ataupun hajatan. Tari piring
dikenal dengan gerakan yang atraktif dengan memainkan piring
di tangan. Sebagian daerah di Sumatera
Barat, piring yang dibawa akan dipecahkan pada akhir gerakan sebagai wujud
kegembiraan dan niat mulia dari sang penari. Kini, Tari Piring merupakan tari tradisional yang
terkenal keistimewaannya di penjuru dunia dan juga telah
menjadi salah satu warisan kebudayaan Indonesia.
Seni tari bukan
hanya sekedar gerakan yang dibawakan semau kita. Tetapi, kita harus
memahami makna dan filosofi tarian tersebut.
Jika kita sudah memahami makna dan filosofinya, maka rasa cinta
terhadap seni tari seakan melekat pada raga kita. Muncul
rasa ingin mempelajari dan terus mempelajarinya. Filosofi
tari dari leluhur memiliki makna yang dapat diterapkan dalam kehidupan kita,
mengambil nilai-nilai positifnya.
Begitu juga dengan
Tari Piring. MembawakanTari Piring harus
kompak dan hafal gerakan yang telah dipelajari. Jika terjadi kesalahan atau
tertinggal satu gerakan saja, tari piring terlihat tidak bagus dan kacau. Harus
benar-benar memahami dan berlatih secara rutin agar terbiasa. Dibutuhkan usaha
keras dan tekad dalam belajar menari, bukan hanya dalam tari piring saja. Tetapi
dalam tarian apapun. Saling mendukung satu sama lain dalam tim
juga diperlukan. Jika kita tidak serius
dan tidak berusaha keras maka tidak akan mudah untuk membawakannya.
Kita harus bangga
terlahir di negara yang kaya budaya dan beragam adat istiadat. Kita patut
melestarikan dan mengenalkannya ke seluruh pelosok negeri, agar budaya di Indonesia
tidak terlupakan dan punah. Bagi generasi muda, marilah kita bersama-sama
mempelajari budaya, khususnya seni tari. Kalau bukan kita siapa lagi yang akan
melestarikannya. Karena esok kitalah yang akan mengajarkan kepada anak cucu
kita.
Walaupun
baru sedikit kontribusi kami dalam melestarikan
aset budaya Indonesia dengan mengenalkan Tari Piring ini kepada masyarakat
Banyumas, tetapi dari sedikit inilah kami juga belajar mengenal budaya lainnya di
Indonesia.
Penampilan Tari
Piring yang diwakilkan oleh Yusuf, Robby, Sari, Ismi, dan Wenty pada
acara Panggung Banyumas Rongewu Limolas ini, merupakan
penampilan perdana dan pengalaman berharga bagi IKAMMI UNSOED. Kami sangat
bangga dan senang dapat menghibur dihadapan para pengunjung yang mayoritas
merupakan masyarakat Banyumas.
Kami
mengucapkan banyak terimakasih kepada Dewan Kesenian Kabupaten Banyumas (DKKB)
yang telah memberikan kesempatan bagi kami untuk tampil eksis pada acara Panggung
Banyumas Rongewu Limolas, menampilkan Tari Piring khas daerah asal kami
(Sumatera Barat). Terimakasih juga untuk Pembina IKAMMI UNSOED Pak Safril dan
Bundo Caniago serta teman-teman yang selalu mendukung dan mendoakan kami.
Senin, 21 Desember 2015
Ketahuilah Hak Anakmu, agar Menjadi Generasi Terbaik
Zaman
sekarang banyak anak yang diterlantarkan karena segi ekonomi tidak dapat
mencukupi kebutuhan keluarga, dan merelakan anak-anaknya menjadi pekerja keras
dibawah umur dan tidak menginyam pendidikan yang layak seperti teman-teman
seumurannya. Kurangnya perhatian serta kasih sayang dari orang tua maupun orang
di sekitar lingkungannya sungguh berpengaruh pada mental dan perkembangan bagi
anak. Anak tetaplah anak, dengan segala ketidakmandirian yang ada sangatlah
membutuhkan perlindungan dan kasih sayang dari orang dewasa di sekitarnya. Anak
mempunyai berbagai hak yang harus diimplentasikan dalam kehidupan dan
penghidupan mereka. Hak-hak anak sudah tertuang jelas di dalam undang-undang.
Seperti undang-undang No. 4 Tahun 1979 membahas tentang kesejahteraan anak dan
undang-undang No. 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak. Pendidikan sangat
penting untuk anak, karena salah satu hak anak. Setiap anak tidak pernah
diminta untuk dilahirkan. Tetapi sekali ia lahir, ia berhak untuk mendapatkan
perlindungan hukum. Sejauh manakah anak menaruh hormat dan segan terhadap orang
dewasa, sangat bergantung dari sejauh manakah orang tuanya mampu mendidik dan
menanamkan kesadaran menghormati orang tua dan orang lain.
Anak
adalah bagian dari generasi muda salah satu sumber daya manusia yang merupakan
potensi dan penerus cita-cita perjuangan bangsa. Memiliki peranan strategis dan
mempunyai ciri dan sifat khusus. Anak sangat memerlukan pembinaan dan
perlindungan dalam rangka pertumbuhan dan perkembangan fisik, mental dan sosial
secara utuh, serasi, selaras, dan seimbang. Orang dewasa berperan penting untuk
melaksanakan pembinaan dan perlindungan terhadap anak, diperlukan dukungan
secara terus menerus terhadap bakat dan kepandaiannya agar membangun kapasitas
diri anak. Dan dukungan baik menyangkut kelembagaan maupun perangkat hukum yang
lebih mantap dan memadai, oleh karena itu ketentuan mengenai penyelenggaraan
pengadilan bagi anak perlu dilakukan secara khusus.
Orang
tua dituntut untuk mendidik dan membimbing anak-anaknya kepada agama yang
sesuai dengan fitrah (naluri manusia) agar mereka memiliki akhlak mulia dan
menjadi manusia yang taqwa. Anak adalah bagaikan kertas putih, dan kitalah yang
memberikan corak warna nan indah di kertas tersebut. Jika kita memberi corak
(bimbingan) yang buruk maka hasil di kertas tersebut amatlah jelek dan tidak
layak untuk di lihat ataupun di puji. Begitu pun sebaliknya, jika corak
(bimbingan) yang kita berikan baik dan elok, maka hasilnya juga elok nian.
Kesalahan
yang lazim di era sekarang ialah bila anak diperlakukan sama dengan orang
dewasa lantas dimintai pertanggung jawaban atas segalanya, itu sangatlah tidak
wajar. Ketika anak harus mentaati semua tata-nilai yang terkadang belum
difahami anak dan orang tua selalu menuntut kepada anak berbagai hal. Bila tidak ada pemahan dari orang tua
terhadap hak anak, maka akan terjadinya pertikaian antara anak dengan orang
tua. Oleh sebab itu, orang tua harus memahami keinginan dan kebutuhan anak
selama perkembangannya, baik itu membimbingnya dan memberikan perhatian khusus kepada anak.
Deklarsi
PBB juga telah mengutarakan tentang Hak-hak anak. Sala satunya, bahwa seorang
anak harus menikmati perlindungan yang khas, harus diberi kesempatan dan
kemungkinan baik oleh hukum atau dengan cara lain agar ia dapat
memperkembangkan jasmaniahnya, rohani, budi pekerti, kecerdasan dan keadaan
sosial dengan cara yang sehat dan biasa, dalam alam kemerdekaan dan kehormatan.
Menjalankan hukum ini merupakan kepentingan utama dari seorang anak yang harus
didahulukan.
Itulah
sedikit ilmu yang bisa saya bagi ke teman-teman pembaca, semoga bermanfaat. Dan semoga kita sebagai calon orang tua atau berstatus orang
tua saat ini, memahami hak-hak anak dan bagaimana harus menyikapinya.
Referensi :
Hasyim
Umar. (1983). Anak Shaleh Seri II (Cara
mendidik anak dalam Islam). Surabaya. Bina Ilmu. Hal. 119.
Siregar.
B. dkk. (1986). Hukum dan Hak-hak Anak. Jakarta. Yayasan LBH Indonesia.
Hal. 5.
Nashriana.
(2011). Perlindungan Hukum Pidana Bagi Anak Indonesia. Jakarta. Raja
Grafindo Persada. Hal. 13.
Minggu, 20 Desember 2015
Perjalanan Tak Kunjung Usai (Sang Pencari)
Siti Asyari
Desember 20, 2015
Fiksi, Fiksi dan Non Fiksi, Kata Hati
No comments
Tidak sedikit pun niat untuk menoleh kebelakang
dengan posisi badan tegap dan mantap tajam ke arah depan seperti melihat satu
titik tumpu. Berusaha untuk berlari kencang tapi apa daya, jalan begitu terjal
dan bebatuan yang menggenaskan membuat sang pencari tidak dapat berlari
kencang. Matahari mulai berlahan naik ke atas langit hingga tepat sejajar
dengan ubun-ubun. Tetesan air keringat sudah tidak terhitung jumlahnya yang mengenai
tanah bumi, tetepi sang pencari tidak mengenal kata lelah dan berusaha untuk
berlari menggapai keinginan yang ingin ia diwujudkan. Panas terasa membakar
tubuh, pecahan batuan tajam seakan merobek telapak kaki, pukulan rombongan debu
sampai mengiris muka, inilah perjalan tak kunjung usai oleh sang pencari. Tidak
ada kompas sebagai petunjuk arah, tidak ada peta sebagai alat pandu, hanya
berbekal tekad nan egois untuk sebuah pencapaian. Berharap ada seseorang yang
melintas didekatnya agar dapat bertanya “kemana arah jalan ini?” tapi semua itu
tidak akan mungkin terjadi, daerah yang jauh dari peradaban manusia, dan
mungkin hanya ada binatang buas yang akan menyapa hingga menerkamnya.
Bermil-mil perjalanan yang telah dilalui
hingga senja pun tiba, menggunakan waktu sejenak untuk beristirahat, sambil
menghilangkan dahaga dengan perbekalan air seadanya. Hamparan batuan dan
kerikil begitu senantiasa menemani istirahatnya. Perjalanan akan dilanjutkan
besok pagi. Disela-sela istirahat sang pencari menyempatkan diri memandang ke
atas langit, melihat keindahan beribu-ribu cahaya bintang yang terhempas di
langit, secara berlahan tangan ingin merenggut salah satu cahaya itu, tapi
semua usaha itu berakhir sia-sia karena cukup jauh untuk menjangkaunya. Sempat
sang pencari bertanya dengan jiwanya ”kenapa bintang memiliki cahaya, membuat
setiap orang bahagia ketika melihatnya, kenapa?” Berbeda halnya dengan diriku,
tidak ada yang spesial dari jiwa dan raga ini, hanya sebuah kesedihan dan
penderitaan yang kudapat di muka bumi. Bintang mimiliki cahaya membuat banyak
orang tertawa dan tersenyum dengan penuh kemesraan, sedangkan saya? Kebimbangan
dan rasa lelah sang pencari berujung kediaman karena sudah tertidur lelap dalam
mimpinya.
Seseorang kira-kira berumur 60 tahun-an dengan
berpakaian kumuh datang mendekati sang pencari, mulai ada perbincangan antara satu
sama lain. Orang tua itu bertanya “apa yang engkau cari anak muda?” Seorang tak
kenal itu seakan terasa asing bagi sang pencari, dengan sambil berfikir sang
pencari pun menjawab “aku hanya ingin sampai di ujung jalan ini, yang berakhir dengan
kebahagiaan”. Tentu kamu tidak akan menemukan akhir jalan ini nak, ucap orang
tua tersebut. Sang pencari pun heran ketika mendengarkan perkataan sekilas yang
disampaikan orang tua itu. Dengan keegoisan sang pencari benaknya sampat
berkata “ tidak mungkin, setiap jalan pasti akan ada akhir atau ujung jalannya”
wajah kesal yang ditampakkan oleh sang pencari tehadap orang tua itu. Nak, aku
tau apa yang sedang kamu pikirkan, bahkan kamu tidak percaya dan beranggapan
itu tidak mungkin, iya kan? Tapi ya sudah lupakan saja, semua keputusan ada
dipihak kamu anak muda. Hanya ada satu pesan dari saya nak, “janganlah engkau esok
menyesal karena keputusan yang sudah kamu pilih hari ini”. Belum sempat sang
pencari bertanya asal orang tua dan maksudnya dari perkataannya, orang tua itu sudah
membelakangi dan melangkah meninggalkan sang pencari dengan tongkat tuanya. Berusaha
sang pencari untuk mengejar tetapi karena sebuah batu dihadapan kaki, membuat
sang pencari terjungkal, dan berusaha melihat ke arah orang tua itu, tapi
sayang kini hanya terlihat bayangan yang menghilang dari kejauhan oleh sosok orang
tua tadi. Rasa sakit karena jatuh dan rasa tidak percaya membuat sang pencari
bangun dari mimpinya.
Semua perlengkapan sudah ditata didalam tas
besar yang telah disandang, siap melanjutkan perjalanan kembali, udara pagi nan
sejuk seakan sejenak menenangkan pikiran dan hatinya. karena begitu menikmati
dan menghayati kesejukan pagi. Semangat drastis meningkat untuk melanjuti
perjalanan.
Bersambung..
Jumat, 18 Desember 2015
Ibu
Siti Asyari
Desember 18, 2015
Fiksi dan Non Fiksi, Kata Hati, Non Fiksi
No comments
Maafkan aku Ibu, tidak ada sesuatu yang spesial ataupun berbentuk barang yang bisa aku berikan untuk Ibu. Aku hanya punya kasih sayang ini Ibu dan itu sangat tulus dari hatiku. Jasamu tidak penah tergantikan oleh apapun. Sampai kapan pun aku akan selalu mencintai dan menyayangimu Ibu.
Kamis, 17 Desember 2015
Merindukan Tanah Kelahiran
Siti Asyari
Desember 17, 2015
Fiksi dan Non Fiksi, Kata Hati, Non Fiksi
No comments
Tidak sedikit kerabatKu menanyakan kapan aku pulang. Ingin sekali aku berjumpa denganmu, ucapnya. Bahkan, adapun kerabat dekatKu setelah lulus SMK sampai saat ini belum pernah bersua. Tak bisa digambarkan rasa rindu itu, diibaratkan seperti darah yang telah mengalir disekujur tubuh dalam diri seseorang. Semoga Allah mengizinkan dan memberi waktu untuk kita berjumpa kembali dan menceritakan masa-masa kenangan disaat dulu kita masih bersama..
Selasa, 20 Oktober 2015
NgeCamp di Bukit Tranggulasih
Jalan-jalan adalah hobiku. Kalau sudah
terdengar ajakan untuk menjelajah ataupun mencicipi lokasi wisata, jawaban
tegasku menyambut dengan lembut, kapan? Di mana? Dan dengan siapa? Dan tidak
mungkin aku menolaknya. Tepat pada tanggal 13 oktober 2015, tim eksplore kami mengusulkan ke lokasi
wisata bukit Tranggulasih yang terletak di kecamatan Baturraden. Sepakat sepuluh
orang bisa berangkat di hari itu dan usulanku pun diterima untuk camping, awalnya sih teman-teman ingin
berangkat pagi sekitar jam 03.00, tapi saya tidak yakin, pasti semua orang akan
terlelap nyenyak dalam mimpi indahnya. Akhirnya saya mengusulkan, alangkah
baiknya kita camping saja, bisa jadi
kita tidak akan telat melihat sunrise-nya.
Impian bagi para wisata yang berkunjung ke bukit Tranggulasih adalah dapat
melihat sunrise dan pemandangan indah
yang dilihat dari atas bukit. Perlengkapan yang dibutuhkan mulai aku menyewanya
seperti dua tenda yang berkapasitas 4-5 orang dan kompor gas portable serta nestingnya. Makanan dan
yang lainnya, termasuk tanggungan pribadi masing-masing.
Pukul 00.00 perjalanan dimulai. Hawa
dingin mulai meresap secara lambat menusuk bagian jaket. Perjalanan memakan
tiga puluh menit ke atas Bukit Tranggulasih, tetapi karena kami memilih jalur
yang salah, waktu termakan begitu pesat. Berkilo-kilometer jauhnya kami salah
arah. Mendaki dan menurun membuat motor kami mengeluarkan wangian khasnya. Dan kami
harus kembali di pertigaan awal jalan, setelah kami bertanya dengan seseorang
yang sedang sibuk mengurusi aksi jurit malam mahasiswa pencinta alam. Sekitar satu
jam lebih akhirnya kami sampai di Bukit Tranggulasih Baturraden. Menitipkan motor
dan mulai kami bersama-sama mendaki sekitar 200 meter ke tempat tujuan. Sesampai
di atas Bukit, kami mencari tanah yang datar untuk mendirikan tenda. Seselai jam
setengah 03.00 pagi, setelah bercakap-cakap sebentar di tenda sambil menikmati
pemandangan cahaya dari atas Bukit dan canda tawa, akhirnya kami semua
memutuskan untuk tidur sejenak. Dan mengingatkan teman-teman agar bisa
membangunkan satu sama lain di pagi hari untuk melihat sunrise. Inilah pengalaman yang bermakna dan menyenangkan dengan
teman-teman kelasku di hari libur. Tidak akan pernah dilupakan momen terbaik
ini. Menikmati sunrise walaupun
sedikit tertutupi oleh awan mendung yang tdak bersahabat, tapi tidaklah apa,
pemandangan indahnya tetap saja tidak pudar. Inilah perjalanan ekowisataku,
mana ceritamu?
"Foto Narsis deh"
"Foto bareng setelah melihat sunrise"
Senin, 19 Oktober 2015
Penjelajah Gunung Prau 2565MDPL
“Foto narsis sebelum berangkat”
Perjalan telah dimulai, melaju
dengan kecepatan normal dari kota kecil kami ke kota tujuan. Selama dua jam
lebih kami sampai di kabupaten wonosobo. Senang tak tertahankan, sudah dekat
tujuan kami. Tapi selama perjalanan sempat kami juga untuk melepaskan letih
sesaat di bakul Salak pondo di Banjarnegara. Setelah itu melanjutkan kembali
perjalanan. Perut mulai tidak bersahabat, perang rasa lapar terjadi ketika kami
sampai di kota Wonosobo jam 21.15. Nasi goreng, menu spesial kami malam itu.
Serempak kami memilih saat melihat buku menu yang diberikan oleh penjual. Kita
sadar dompet tipis kami tidak dapat memilih menu nasi goreng seafood, tekor kita. Dengan serempaknya
kami memilih menu nasi goreng telur, yang paling murah harganya di daftar menu
dan teh hangat pelengkap makan malam kami.
“Foto dinner bareng.”
Jarak dari kota wonosobo ke dieng
tidaklah jauh, bisa ditempuh sekitar dua puluh menit, tapi karena jalannya
mendaki dan menanjak motor yang kami lajukan sampai tidak sanggup. Akhinya
memakan waktu hampir satu jam. Tiba di Dieng sekitar jam 22.00, setelah
menitipkan motor dan mengurus administrasi lainnya di basecamp pendakian. Mulai
kami mendaki, gelap gulita malam yang menemani kami. Senter tangan dan headlamp selalu setia menerangi. Jalan
penuh debu dan batuan besar yang menanti di depan dan setiap rute pendakian. Duka senang kami
rasakan, mulai dari mendaki hingga sampai di camp sunrise, itulah tujuan kami. Dua jam hingg kami sampai di
puncak, mendirikan tenda di sela-sela dinginnya malam yang tidak bisa ku tahan.
Walaupun dengan baju yang berlapis dua dan memakai jaket tetap saja dingin itu
menembus sampai ke kulit tipisku. Kami butuh istirahat dan menghangatkan badan.
Tenda siap, dan bergegas kami berkemas-kemas untuk menyiapkan kopi panas dan
indomie rebus.
“Foto sedang
menikmati indomie rebus dan kopi panas”
Menunggu matahari terbit menjadi
impian utama kami, berharap bangun lebih pagi dan mengurangi waktu tidur. Hingga
pagi tiba sekitar jam 04.00 pagi, melihat keluar tenda masih gelap gulita yang dipenuhi
kabut. Akhirnya kami menunggu sampai jam 05.00. rasa tidak kesabaran,
menyenangkan tercampur aduk semuanya. Semua kebahagiaan sulit diucapkan, untuk
pertama kalinya bagiku melihat sunrise seperti itu. Terasa ingin teriak
sekeras-kerasnya. Sangat ramai, para pendaki sudah berkeliaran mencari plot
untuk berfoto-foto. Kami pun tidak mau kalah.






