Senin, 05 Desember 2016
Setelah penampilan pada akhir
tahun lalu, tanggal 27 Desember 2015 diajang bergengsi Panggung Banyumas Rongewu
Limolas (Panggung Banyumas 2015) yang digelar oleh Dewan Kesenian Banyumas, bertempat
di Taman Andang Pangrenan Purwokerto. Undangan terus banjir memadati jadwal
kami, meminta mengisi diberbagai acara, yaitu menampikan tari tradisional khas
Daerah Sumatera Barat. Undangan yang kami terima untuk mengisi di Acara Resepsi
Pernikahan kombinasi dari Suku Sumatera barat (Minangkabau) dengan Suku Sunda. Diselenggarakan
di Cilacap pada tanggal 27 Februari 2016 lalu.
Penampilan untuk kedua kalinya
bagi tim tari Sanggar Marawa Ikatan Keluarga Mahasiswa Minang (IKAMMI) Universitas
Jenderal Soedirman Purwokerto. Jauh-jauh hari telah menentukan berapa personil
yang akan berangkat dan tim tari mempersiapkan tarian secara maksimal. Ada dua
tari traditional yang akan ditampilkan, pertama tari galombang, merupakan tarian
pencak silat untuk menyambut mempelai pria dan wanita, kedua tari piring untuk
menghibur mempelai dan para tamu yang hadir.
Sore 26 Februari 2016, kita berangkat
dan menginap semalam di Cilacap. Selepas waktu magrib kita menyempatkan untuk
berlatih agar tidak canggung dan juga melatih kekompakan tim. Bercucuran keringat
sudah hal biasa bagi para penari, memang cukup melelahkan tapi kami tahu tujuan
utama kami adalah untuk menghibur dan memperkenalkan budaya. Dan kami yakin
perjuangan selama latihan tidak akan sia-sia, karena hasil tidak akan
mengkhianati usaha.
Keesokan hari, tepat acara
berlangsung kami telah dijadwalkan tampil jam 10am. Terkesima melihat gedung
mewah yang didekorasi seelok mungkin dan menawan ketika dipandang, hiasan serta
pernak-pernik khas Sumatera Barat terlihat jelas di sisi-sisi sudut gedung. Para
catering sudah menyajikan berbagai menu
makanan yang nikmat disantap, seperti bakso/soto, rendang/masakan khas padang,
sate padang, sate kambing, jajanan dan gorengan, tidak bisa disebutkan semuanya
karena banyak sekali dan sangat menggugah selera. Tamu-tamu elit pun sudah memenuhi
ruangan yang telah disediakan.
Sebelum menari kita tak lupa
berdoa kepada Allah untuk memperlancar segala urusan kami, Alhamdulillah penampilan
tari galombang dan tari piring berjalan lancar dan mendapatkan tepuktangan
meriah dari pengunjung dan tuan rumah. Keyakinan dan usaha kami semua berbuah
manis. Tim tari sanggar marawa berfoto bersama dengan mempelai dan itu sebuah
kebanggan bagi kami.
Setelah tampil, tim tari tidak
ingin melewatkan momen tertentu, yaitu mencicipi semua makanan. Tidak perlu
malu dan sungkan, ini soal perut, ketika lapar ya harus makan. Acara resepsi ini
tidak hanya diisi dengan tarian saja tapi ada hiburan yang lain seperti Band dan
Orgen tunggal menyanyikan lagu-lagu Sumatera Barat (Minangkabau). Berasa dihari
itu kami semua sedang di Sumatera Barat, tapi itu hanya angan-angan. Itulah
nasib anak perantauan Sumatera barat, jarang pulang tapi selalu membanggakan
nama Sumatera Barat salah satunya mengenalakan budaya melalui tarian.
Sebelum pulang ke Purwokerto, pembimbing
yang mendampingi kami selama di Cilacap mengajak kami trip ke pantai. Karena kita tahu Kota Cilacap adalah daerah pesisir
pantai. Pantai Teluk Penyu, walaupun pantainya tidak terlalu bagus tapi kami
sangat menikmati karena hari ini adalah momen bahagia. Selama perjalanan pulang
semua tidur terlelap.
Sabtu, 06 Februari 2016
Rindu sang Ayah
Siti Asyari
Februari 06, 2016
Fiksi, Fiksi dan Non Fiksi, Kata Hati
No comments
Rintikan hujan menciptakan sebuah kenyamanan ditambah lagi udara nun dingin, rasa ingin cepat-cepat ke atas ranjang, mengambil selimut menutupi seluruh tubuh dengan ditemani bantal kesayangan. Tapi sayang seribu sayang, ku tak bisa melakukan itu. Semua orang sudah terlelap dengan mimpi indahnya. Tetapi aku masih terpaku dalam renungan. Ihsan, itu lah namaku. Kini, masih menyimak alunan syahdu rintikan air yang jatuh dari langit, tercipta melodi indah saat memejamkan mata.
Malam ini, seakan teringat kenangan masa lalu. Kenangan pahit itu. Mungkin karena kerinduan yang membekam dalam jiwa. Tiga tahun silam, kejadian yang tidak bisa kulupakan. Perasaan pedih itu sangat membekas di hati dan benakku. Bukan ia yang kurindukan, mantan isteriku. Tapi sang buah hati darah dagingku yang ia bawa lari. Sampai saat ini tidak ada kabar dan entah ke mana mereka pergi.
Perceraian bukanlah permintaanku, itu bukan ujung penyelesaian masalah dalam keluarga. Tapi, karena keras kepala dan keegoisannya, semua berujung seperti saat ini. Karena ketidakcocokan kami, harus berakhir dengan perceraian. Dan sekarang, aku hanya bisa mengalah ketika ia membawa putri kecilku. Sabela, nama putri kecilku. Cantik dan menawan, senyuman manis dilengkapi dengan semi pipit dikedua pipinya, sangat menggemaskan. Kehadiran sang Putri kecil seakan melengkapi hidupku. Tapi kini semua itu sirna, isak tangis yang melanda saat kerinduan. Sifat manjanya sangat aku kenal gerak-geriknya, pipi memerah saat ia malu ketika salah, dan wajah masamnya saat aku mengingkari janjiku dengannya. Jujur, ayahmu ini sangat merindukanmu. Sabela, semoga engkau sehat selalu dalam lindunganNya.
Tuhan, cobaan apalagi yang aku terima. Apakah hidupku akan terus seperti ini? Penuh dengan puing-puing permasalahan, seperti jalan penuh dengan bebatuan dan tajam seakan sulit tuk kulewati. Aku hanya bisa berserah diri kepadaMu, dan tak pernah bosan tuk meminta petunjuk dan pertolonganMu. Suatu saat, pertemukanlah aku dengan putri kecilku, yang kini masih terpisah jauh denganku.
Sekian......
Rabu, 03 Februari 2016
Bapak Tukang Becak
Sore
ini suasana lumayan sejuk, udaranya sangat menyenangkan ketika dihirup. Tak pernah
lupa tuk terus bersyukur. Melihat warna-warni hidup, kebiasaan masyarakat saat
melakukan aktivitas di sore hari. Kita tahu rezeki sudah ada yang mengatur, hal
paling terpenting adalah ikhtiar dan doa jangan sampai kita lupakan. Pandangan
kita, uang berarti segalanya untuk membeli kebutuhan sehari-hari dan semua itu
harus tercukupi. Terkadang kita sendiri pernah mengecap hidup ini kejam dan
sulit ketika keuangan di dalam keluarga minim, karena keberadaan uang guna memenuhi
semua kebutuhan biaya sekolah anak, perlengkapan rumah, dan sebagainya. Orang
tua sebagai tulang punggung yang bertanggung jawab atas segalanya, mencari
nafkah yang tak kenal lelah. Pernahkah kita berfikir bahwa kehidupan kita sudah
layak? Terkadang kita lupa bersyukur kepada Mahapemberi, padahal diluar sana
masih banyak orang-orang masih serba kekurangan dalam segi material.
Sedikit
cerita tentang seorang bapak tukang becak. Di kota mendoan ini, masih banyak
kalangan keluarga mencari nafkah dengan menggunakan transportasi tradisional
(Becak), dengan mengayuh sampai berkilo-kilo meter jauhnya, dan upah bayarnya pun
hanya sedikit. Rasa belasku membuat hati rapuh dan menetaskan air mata. Saat jalan
medaki bapak dengan sekuat tenaga mendorong becaknya dan di saat jalan menurun bapak
menahan kampas rem serta suara khas klakson klasiknya dari kaleng. Melihat kondisi
lalu-lalang motor di kota ini sangat mengerikan, kebut-kebutan tidak karuan,
bisa terancam tukang becak sebut benakku.
Lelah
dan cucuran keringat tak menghalanginya bapak untuk bekerja keras. Dengan kemajuan
teknologi dan keterbatasan lowongan pekerjaan, hanya itu yang bisa dilakukan
sebagai tonggak pencari nafkah. Pendidikan pun rendah, maklum pada zaman dahulu
yang bisa menginyam pendidikan hanya orang-orang tertentu dan orang-orang yang
finansialnya rendah memilih menjadi buruh atau budak. Kini, pendidikan di
pandang sangat penting apalagi syarat untuk melamar pekerjaan.
Sebagian
orang ada yang menawar harga karena tidak kesesuaian harga yang diinginkan,
jika melihat keuntungan dari hasil jerih payah tukang becak sangat kecil dibanding
tenaga yang dikeluarkan. Tukang becak selalu mempertimbangkan harga untuk
memuaskan penumpang, tapi kita ketahui, sekarang dengan padat persaingan
apalagi sudah ada transportasi umum, dan kendaraan pribadi, masih inginkah kita
untuk menawar? Hitung-hitung kita besedekah. Pernahkah terbayangkan oleh benak
kita, dalam sehari berapa lama ia harus menuggu penumpang untuk menunggangi
becaknya. Terkadang dalam satu hari pun tidak ada penumpang, membawa tangan
kosong ketika pulang. Tapi dengan tekad bapak, ia yakin rezeki sudah ada yang
mengatur.
Semoga
ini menjadi renungan kita bersama, saling mengerti kondisi dan keadaan
orang-orang di sekitar kita. Pedulilah, bahkan kejadian apapun bisa menjadikan
makna tersendiri. Semoga kita selalu semangat dan kerja keras serta doa yang tak
kunjung putus.
Selasa, 29 Desember 2015
Panggung Banyumas Rongewu Limolas (Panggung Banyumas 2015)
Panggung
Banyumas Rongewu Limolas (Panggung Banyumas 2015). Kegiatan tersebut merupakan agenda
rutin yang digelar setiap tahun oleh Dewan Kesenian Kabupaten Banyumas (DKKB) yang
kali ini diselenggarakan pada tanggal 26-27 Desember 2015 di Taman Rekreasi Andhang
Pangrenan. Untuk tahun ini, diadakan berbagai
kegiatan antara lain: Pemilihan Rama Biyung Banyumas 2015, Lomba Stand Up
Comedy Banyumasan, dan Lomba Fashion
Show Batik Nusantara. Acara ini juga disemarakkan dengan penampilan dari
Sopsan, Gethek, Blues and Rock dari Deny Music, Tari
Wira Pertiwi dari sanggar Halawangsa, dan Tari Piring dari IKAMMI UNSOED
(Ikatan Keluarga Mahasiswa Minang Universitas Jenderal Soedirman ).
Tari Piring, tari
yang tepat untuk ditampilkan. Tak dipungkiri, Tari Piring sudah lazim dikenal
dikalangan masyarakat, terutama masyarakat Jawa. Jika kami
menampilkan tarian lain seperti Tari Randai ataupun Tari Indang, belum tentu
masyarakat disini mengetahuinya. Jika
pun ada yang tahu, kemungkinan sangat minim.
Singkat cerita,
kami menampilkan Tari Piring di acara tersebut karena IKAMMI UNSOED kenal
dengan Bendahara Kesenian Kabupaten Banyumas, yaitu Bapak Rohadi. Beliau meminta
kami untuk mengisi di acara Panggung Banyumas
Rongewu Limolas. “Bagaimana jika kalian menampilkan Tari Piring khas Sumatera
Barat, karena tari piring ini terlihat menarik.” ucapnya. Sempat
merasa kaget dan juga ragu-ragu untuk mengiyakan bahwa kami bisa tampil di
acara bergengsi tersebut. Kami
hanya memiliki waktu 2 minggu. Waktu yang singkat membuat kami cukup sulit
meluangkan waktu untuk berlatih karena adanya perbedaan jadwal kuliah. Dan
akhirnya,walaupun baru berumur satu tahun, IKAMMI UNSOED
dengan sigap serta rasa percaya diri menyanggupi tawaran
untuk tampil di acara bergengsi Kabupaten Banyumas tersebut demi citra
Kabupaten Banyumas dan ranah kami Sumatera Barat. Dengan
kebersamaan yang dilalui serta semangat untuk berlatih, rasa percaya diri itu
seakan muncul dan meyakinkan kami untuk bisa tampil maksimal walaupun
harus pergi pagi-pulang malam.
Tari Piring yang
akan ditampilkan hanya berkisar waktu 8 menit, setelah
Tari Wira Pertiwi yang merupakan tarian yang berasal dari Jawa Tengah. Tari Wira Pertiwi
terlihat unik bagi kami. Tarian ini mencerminkan sosok kepahlawanan seorang
prajurit perempuan Jawa. Dengan
membawa panahan di tangan kiri dan tangan
kanan seakan menarik tuas tali panahan, tatapan mata yang tajam, serta ekspresi
wajah tegas menggambarkan karakter wibawa seorang prajurit.
Sedangkan,
Tari Piring merupakan tarian khas Sumatera Barat atau Minangkabau. Semua tarian di Nusantara
memiliki filosofi, termasuk Tari Piring ini. Tari Piring menggambarkan
kekompakan dan kebersamaan masyarakat Minangkabau. Dahulu, tarian
ini merupakan ungkapan rasa syukur kepada dewa atas hasil panen. Tetapi
setelah ajaran Islam masuk ke Sumatera Barat,makna tarian ini mengalami
pergeseran. Tidak lagi dipersembahkan
untuk dewa, melainkan untuk ditampilkan pada acara pernikahan ataupun hajatan. Tari piring
dikenal dengan gerakan yang atraktif dengan memainkan piring
di tangan. Sebagian daerah di Sumatera
Barat, piring yang dibawa akan dipecahkan pada akhir gerakan sebagai wujud
kegembiraan dan niat mulia dari sang penari. Kini, Tari Piring merupakan tari tradisional yang
terkenal keistimewaannya di penjuru dunia dan juga telah
menjadi salah satu warisan kebudayaan Indonesia.
Seni tari bukan
hanya sekedar gerakan yang dibawakan semau kita. Tetapi, kita harus
memahami makna dan filosofi tarian tersebut.
Jika kita sudah memahami makna dan filosofinya, maka rasa cinta
terhadap seni tari seakan melekat pada raga kita. Muncul
rasa ingin mempelajari dan terus mempelajarinya. Filosofi
tari dari leluhur memiliki makna yang dapat diterapkan dalam kehidupan kita,
mengambil nilai-nilai positifnya.
Begitu juga dengan
Tari Piring. MembawakanTari Piring harus
kompak dan hafal gerakan yang telah dipelajari. Jika terjadi kesalahan atau
tertinggal satu gerakan saja, tari piring terlihat tidak bagus dan kacau. Harus
benar-benar memahami dan berlatih secara rutin agar terbiasa. Dibutuhkan usaha
keras dan tekad dalam belajar menari, bukan hanya dalam tari piring saja. Tetapi
dalam tarian apapun. Saling mendukung satu sama lain dalam tim
juga diperlukan. Jika kita tidak serius
dan tidak berusaha keras maka tidak akan mudah untuk membawakannya.
Kita harus bangga
terlahir di negara yang kaya budaya dan beragam adat istiadat. Kita patut
melestarikan dan mengenalkannya ke seluruh pelosok negeri, agar budaya di Indonesia
tidak terlupakan dan punah. Bagi generasi muda, marilah kita bersama-sama
mempelajari budaya, khususnya seni tari. Kalau bukan kita siapa lagi yang akan
melestarikannya. Karena esok kitalah yang akan mengajarkan kepada anak cucu
kita.
Walaupun
baru sedikit kontribusi kami dalam melestarikan
aset budaya Indonesia dengan mengenalkan Tari Piring ini kepada masyarakat
Banyumas, tetapi dari sedikit inilah kami juga belajar mengenal budaya lainnya di
Indonesia.
Penampilan Tari
Piring yang diwakilkan oleh Yusuf, Robby, Sari, Ismi, dan Wenty pada
acara Panggung Banyumas Rongewu Limolas ini, merupakan
penampilan perdana dan pengalaman berharga bagi IKAMMI UNSOED. Kami sangat
bangga dan senang dapat menghibur dihadapan para pengunjung yang mayoritas
merupakan masyarakat Banyumas.
Kami
mengucapkan banyak terimakasih kepada Dewan Kesenian Kabupaten Banyumas (DKKB)
yang telah memberikan kesempatan bagi kami untuk tampil eksis pada acara Panggung
Banyumas Rongewu Limolas, menampilkan Tari Piring khas daerah asal kami
(Sumatera Barat). Terimakasih juga untuk Pembina IKAMMI UNSOED Pak Safril dan
Bundo Caniago serta teman-teman yang selalu mendukung dan mendoakan kami.
Senin, 21 Desember 2015
Ketahuilah Hak Anakmu, agar Menjadi Generasi Terbaik
Zaman
sekarang banyak anak yang diterlantarkan karena segi ekonomi tidak dapat
mencukupi kebutuhan keluarga, dan merelakan anak-anaknya menjadi pekerja keras
dibawah umur dan tidak menginyam pendidikan yang layak seperti teman-teman
seumurannya. Kurangnya perhatian serta kasih sayang dari orang tua maupun orang
di sekitar lingkungannya sungguh berpengaruh pada mental dan perkembangan bagi
anak. Anak tetaplah anak, dengan segala ketidakmandirian yang ada sangatlah
membutuhkan perlindungan dan kasih sayang dari orang dewasa di sekitarnya. Anak
mempunyai berbagai hak yang harus diimplentasikan dalam kehidupan dan
penghidupan mereka. Hak-hak anak sudah tertuang jelas di dalam undang-undang.
Seperti undang-undang No. 4 Tahun 1979 membahas tentang kesejahteraan anak dan
undang-undang No. 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak. Pendidikan sangat
penting untuk anak, karena salah satu hak anak. Setiap anak tidak pernah
diminta untuk dilahirkan. Tetapi sekali ia lahir, ia berhak untuk mendapatkan
perlindungan hukum. Sejauh manakah anak menaruh hormat dan segan terhadap orang
dewasa, sangat bergantung dari sejauh manakah orang tuanya mampu mendidik dan
menanamkan kesadaran menghormati orang tua dan orang lain.
Anak
adalah bagian dari generasi muda salah satu sumber daya manusia yang merupakan
potensi dan penerus cita-cita perjuangan bangsa. Memiliki peranan strategis dan
mempunyai ciri dan sifat khusus. Anak sangat memerlukan pembinaan dan
perlindungan dalam rangka pertumbuhan dan perkembangan fisik, mental dan sosial
secara utuh, serasi, selaras, dan seimbang. Orang dewasa berperan penting untuk
melaksanakan pembinaan dan perlindungan terhadap anak, diperlukan dukungan
secara terus menerus terhadap bakat dan kepandaiannya agar membangun kapasitas
diri anak. Dan dukungan baik menyangkut kelembagaan maupun perangkat hukum yang
lebih mantap dan memadai, oleh karena itu ketentuan mengenai penyelenggaraan
pengadilan bagi anak perlu dilakukan secara khusus.
Orang
tua dituntut untuk mendidik dan membimbing anak-anaknya kepada agama yang
sesuai dengan fitrah (naluri manusia) agar mereka memiliki akhlak mulia dan
menjadi manusia yang taqwa. Anak adalah bagaikan kertas putih, dan kitalah yang
memberikan corak warna nan indah di kertas tersebut. Jika kita memberi corak
(bimbingan) yang buruk maka hasil di kertas tersebut amatlah jelek dan tidak
layak untuk di lihat ataupun di puji. Begitu pun sebaliknya, jika corak
(bimbingan) yang kita berikan baik dan elok, maka hasilnya juga elok nian.
Kesalahan
yang lazim di era sekarang ialah bila anak diperlakukan sama dengan orang
dewasa lantas dimintai pertanggung jawaban atas segalanya, itu sangatlah tidak
wajar. Ketika anak harus mentaati semua tata-nilai yang terkadang belum
difahami anak dan orang tua selalu menuntut kepada anak berbagai hal. Bila tidak ada pemahan dari orang tua
terhadap hak anak, maka akan terjadinya pertikaian antara anak dengan orang
tua. Oleh sebab itu, orang tua harus memahami keinginan dan kebutuhan anak
selama perkembangannya, baik itu membimbingnya dan memberikan perhatian khusus kepada anak.
Deklarsi
PBB juga telah mengutarakan tentang Hak-hak anak. Sala satunya, bahwa seorang
anak harus menikmati perlindungan yang khas, harus diberi kesempatan dan
kemungkinan baik oleh hukum atau dengan cara lain agar ia dapat
memperkembangkan jasmaniahnya, rohani, budi pekerti, kecerdasan dan keadaan
sosial dengan cara yang sehat dan biasa, dalam alam kemerdekaan dan kehormatan.
Menjalankan hukum ini merupakan kepentingan utama dari seorang anak yang harus
didahulukan.
Itulah
sedikit ilmu yang bisa saya bagi ke teman-teman pembaca, semoga bermanfaat. Dan semoga kita sebagai calon orang tua atau berstatus orang
tua saat ini, memahami hak-hak anak dan bagaimana harus menyikapinya.
Referensi :
Hasyim
Umar. (1983). Anak Shaleh Seri II (Cara
mendidik anak dalam Islam). Surabaya. Bina Ilmu. Hal. 119.
Siregar.
B. dkk. (1986). Hukum dan Hak-hak Anak. Jakarta. Yayasan LBH Indonesia.
Hal. 5.
Nashriana.
(2011). Perlindungan Hukum Pidana Bagi Anak Indonesia. Jakarta. Raja
Grafindo Persada. Hal. 13.
Minggu, 20 Desember 2015
Perjalanan Tak Kunjung Usai (Sang Pencari)
Siti Asyari
Desember 20, 2015
Fiksi, Fiksi dan Non Fiksi, Kata Hati
No comments
Tidak sedikit pun niat untuk menoleh kebelakang
dengan posisi badan tegap dan mantap tajam ke arah depan seperti melihat satu
titik tumpu. Berusaha untuk berlari kencang tapi apa daya, jalan begitu terjal
dan bebatuan yang menggenaskan membuat sang pencari tidak dapat berlari
kencang. Matahari mulai berlahan naik ke atas langit hingga tepat sejajar
dengan ubun-ubun. Tetesan air keringat sudah tidak terhitung jumlahnya yang mengenai
tanah bumi, tetepi sang pencari tidak mengenal kata lelah dan berusaha untuk
berlari menggapai keinginan yang ingin ia diwujudkan. Panas terasa membakar
tubuh, pecahan batuan tajam seakan merobek telapak kaki, pukulan rombongan debu
sampai mengiris muka, inilah perjalan tak kunjung usai oleh sang pencari. Tidak
ada kompas sebagai petunjuk arah, tidak ada peta sebagai alat pandu, hanya
berbekal tekad nan egois untuk sebuah pencapaian. Berharap ada seseorang yang
melintas didekatnya agar dapat bertanya “kemana arah jalan ini?” tapi semua itu
tidak akan mungkin terjadi, daerah yang jauh dari peradaban manusia, dan
mungkin hanya ada binatang buas yang akan menyapa hingga menerkamnya.
Bermil-mil perjalanan yang telah dilalui
hingga senja pun tiba, menggunakan waktu sejenak untuk beristirahat, sambil
menghilangkan dahaga dengan perbekalan air seadanya. Hamparan batuan dan
kerikil begitu senantiasa menemani istirahatnya. Perjalanan akan dilanjutkan
besok pagi. Disela-sela istirahat sang pencari menyempatkan diri memandang ke
atas langit, melihat keindahan beribu-ribu cahaya bintang yang terhempas di
langit, secara berlahan tangan ingin merenggut salah satu cahaya itu, tapi
semua usaha itu berakhir sia-sia karena cukup jauh untuk menjangkaunya. Sempat
sang pencari bertanya dengan jiwanya ”kenapa bintang memiliki cahaya, membuat
setiap orang bahagia ketika melihatnya, kenapa?” Berbeda halnya dengan diriku,
tidak ada yang spesial dari jiwa dan raga ini, hanya sebuah kesedihan dan
penderitaan yang kudapat di muka bumi. Bintang mimiliki cahaya membuat banyak
orang tertawa dan tersenyum dengan penuh kemesraan, sedangkan saya? Kebimbangan
dan rasa lelah sang pencari berujung kediaman karena sudah tertidur lelap dalam
mimpinya.
Seseorang kira-kira berumur 60 tahun-an dengan
berpakaian kumuh datang mendekati sang pencari, mulai ada perbincangan antara satu
sama lain. Orang tua itu bertanya “apa yang engkau cari anak muda?” Seorang tak
kenal itu seakan terasa asing bagi sang pencari, dengan sambil berfikir sang
pencari pun menjawab “aku hanya ingin sampai di ujung jalan ini, yang berakhir dengan
kebahagiaan”. Tentu kamu tidak akan menemukan akhir jalan ini nak, ucap orang
tua tersebut. Sang pencari pun heran ketika mendengarkan perkataan sekilas yang
disampaikan orang tua itu. Dengan keegoisan sang pencari benaknya sampat
berkata “ tidak mungkin, setiap jalan pasti akan ada akhir atau ujung jalannya”
wajah kesal yang ditampakkan oleh sang pencari tehadap orang tua itu. Nak, aku
tau apa yang sedang kamu pikirkan, bahkan kamu tidak percaya dan beranggapan
itu tidak mungkin, iya kan? Tapi ya sudah lupakan saja, semua keputusan ada
dipihak kamu anak muda. Hanya ada satu pesan dari saya nak, “janganlah engkau esok
menyesal karena keputusan yang sudah kamu pilih hari ini”. Belum sempat sang
pencari bertanya asal orang tua dan maksudnya dari perkataannya, orang tua itu sudah
membelakangi dan melangkah meninggalkan sang pencari dengan tongkat tuanya. Berusaha
sang pencari untuk mengejar tetapi karena sebuah batu dihadapan kaki, membuat
sang pencari terjungkal, dan berusaha melihat ke arah orang tua itu, tapi
sayang kini hanya terlihat bayangan yang menghilang dari kejauhan oleh sosok orang
tua tadi. Rasa sakit karena jatuh dan rasa tidak percaya membuat sang pencari
bangun dari mimpinya.
Semua perlengkapan sudah ditata didalam tas
besar yang telah disandang, siap melanjutkan perjalanan kembali, udara pagi nan
sejuk seakan sejenak menenangkan pikiran dan hatinya. karena begitu menikmati
dan menghayati kesejukan pagi. Semangat drastis meningkat untuk melanjuti
perjalanan.
Bersambung..
Jumat, 18 Desember 2015
Ibu
Siti Asyari
Desember 18, 2015
Fiksi dan Non Fiksi, Kata Hati, Non Fiksi
No comments
Maafkan aku Ibu, tidak ada sesuatu yang spesial ataupun berbentuk barang yang bisa aku berikan untuk Ibu. Aku hanya punya kasih sayang ini Ibu dan itu sangat tulus dari hatiku. Jasamu tidak penah tergantikan oleh apapun. Sampai kapan pun aku akan selalu mencintai dan menyayangimu Ibu.
Kamis, 17 Desember 2015
Merindukan Tanah Kelahiran
Siti Asyari
Desember 17, 2015
Fiksi dan Non Fiksi, Kata Hati, Non Fiksi
No comments
Tidak sedikit kerabatKu menanyakan kapan aku pulang. Ingin sekali aku berjumpa denganmu, ucapnya. Bahkan, adapun kerabat dekatKu setelah lulus SMK sampai saat ini belum pernah bersua. Tak bisa digambarkan rasa rindu itu, diibaratkan seperti darah yang telah mengalir disekujur tubuh dalam diri seseorang. Semoga Allah mengizinkan dan memberi waktu untuk kita berjumpa kembali dan menceritakan masa-masa kenangan disaat dulu kita masih bersama..





